Asuhan Keperawatan

Dunia Askep dan Tips Trik Komputer

Welcome to My Blog

Selamat Datang di Blog Ini.
Blog ini masih dalam masa perkembangan dan menuju kesempurnaan, agar blog ini lebih berkembang mohon Kritik dan Sarannya.

Blogger sangat berterima kasih karena ANDA mau mengunjungi Blog ini.

"Blog ini tidak akan berkembang tanpa dukungan dan kerja sama dari ANDA."

Terima kasih!!


Mau Jadi Publisher (Penerbit) atau Advertiser (Pemasang) IKLAN??? Klik disini..!!!


Mau berbisnis?? Klik link-link di bawah ini!!

Mau Dapat Uang Gratis, Download caranya disini...

AdsenseCamp

Graha DBS

Anda Pengunjung Ke :

Buku Tamu Blogger

Dimohon ke pada para pengunjung Blog ini untuk mengisi "BUKU TAMU BLOGGER" yang ada di sebelah kanan agar blogger tahu bahwa Anda bukan robot yang mengunjungi blog ini..

Rabu, 28 April 2010

Askep pada Pasien Krisis

BAB I
KONSEP DASAR

A. DEFENISI
1. Krisis adalah gangguan internal yang diakibatkan oleh suatu keadaan yang dapat menimbulkan stress, dan dirasakan sebagai ancaman bagi individu. Krisis terjadi jika seseorang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan hidup yang penting, dan tidak dapat diatasi dengan penggunaan metode pemecahan masalah (koping) yang biasa digunakan.
2. Krisis adalah reaksi berlebihan terhadap situasi yang mengancam saat kemampuan menyelesaikan masalah yang dimiliki klien dan respons kopingnya tidak adekuat untuk mempertahankan keseimbangan psikologis.
3. Suatu kejadian atau peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba dalam kehidupan seseorang yang mengganggu keseimbangan selama mekanisme coping individu tersebut tidak dapat memecahkan masalah. Selama krisis, individu kesulitan dalam melakukan sesuatu, koping yang biasa digunakan tidak efektif lagi dan terjadi peningkatan kecemasan.

B. KLASIFIKASI KRISIS
Krisis dibagi dalam tiga jenis, yaitu :
1. Krisis perkembangan, terjadi sebagai respons terhadap transisi dari satu tahap maturasi ke tahap lain dalam siklus kehidupan (misalnya., beranjak dari manja ke dewasa).
2. Krisis situasional, terjadi sebagai respons terhadap kejadian yang tiba-tiba dan tidak terduga dalam kehidupan seseorang. Kejadian tersebut biasanya berkaitan dengan pengalaman kehilangan (misalnya., kematian orang yang dicintai).
3. Krisis adventisius, terjadi sebagai respons terhadap trauma berat atau bencana alam. Krisis ini dapat memengaruhi individu, masyarakat, bahkan negara.

C. TAHAP PERKEMBANGAN KRISIS
Fase 1
 Individu dihadapkan pada stressor pemicu.
 Kecemasan meningkat, individu menggunakan teknik problem solving yang biasa digunakan.
Fase 2
 Kecemasan makin meningkat karena kegagalan penggunan teknik problem solving sebelumnya.
 Individu merasa tidak nyaman, tak ada harapan, bingung.
Fase 3
 Untuk mengatasai krisis individu menggunakan semua sumber untuk memecahkan masalah, baik internal maupun eksternal.
 Mencoba menggunakan teknik problem solving baru, jika efektif terjadi resolusi.
Fase 4
 Kegagalan resolusi.
 Kecemasan berubah menjadi kondisi panic, menurunnya fungsi kognitif, emosi labil, perilaku yang merefleksikan pola pikir psikotik.

D. FAKTOR PENCETUS
1. Kehilangan :
 Kehilangan orang yang penting.
 Perceraian.
 Kehilangan pekerjaan.
2. Transisi :
 Pindah rumah.
 Lulus sekolah.
 Perkawinan.
 Melahirkan.


3. Tantangan :
 Promosi.
 Perubahan karir.

E. FAKTOR PENGIMBANG
Dalam penyelesaian suatu krisis harus dipertimbangkan beberapa faktor pengimbang yaitu :
1. Persepsi individu terhadap kejadian.
2. Arti kejadian tersebut pada individu.
3. Pengaruh kejadian terhadap masa depan individu.
4. Pandangan realistic & tidak realistic terhadap kejadian.
5. Situasi yang mendorong / dukungan situasi.
6. Ada orang / lembaga yang dapat mendorong individu.
7. Mekanisme koping yang dimiliki oleh individu.
8. Sikap yang biasa dilakukan individu dalam menangani masalahnya.

F. GEJALA UMUM KRISIS
Gejala Fisik :
 Keluhan somatik (sakit kepala, gastrointestinal, rasa sakit).
 Gangguan nafsu makan (peningkatan atau penurunan BB yang signifikan).
 Gangguan tidur (insomnia, mimpi buruk), sering menangis dan iritabilitas.
Gejala Kognitif :
 Konfusi (sulit berkonsentrasi) ` dan pikiran yang kejar-mengejar.
 Ketidakmampuan mengambil keputusan.
Gejala Perilaku :
 Disorganisasi, menarik diri dan impulsif ledakan kemarahan.
 Sulit menjalankan tanggung jawab peran yang biasa.
Gejala Emosional :
 Ansietas (marah, merasa bersalah), sedih (depresi).
 Paranoid (curiga).
 Putus asa (tidak berdaya).
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Peristiwa pencetus, termasuk kebutuhan yang tercantum oleh kejadian dan gejala yang timbul, seperti :
 Kehilangan orang yang dicintai, baik karena kematian maupun karena perpisahan.
 Kehilangan biopsikososial, misalnya ; kehilangan salah satu bagian tubuh karena operasi, sakit, kehilangan pekerjaan, kehilangan peran social, kehilangan kemampuan melihat dan sebagainya.
 Kehilangan milik pribadi, misalnya ; kehilangan harta benda, kehilangan kewarganegaran, rumah kena gusur.
 Ancaman kehilangan, misalnya ; anggota keluarga yang sakit, perselisihan yang hebat dengan pasangan hidup.
 Ancaman-ancaman lain yang dapat diidentifikasi termasuk semua ancaman terhadap pemenuhan kebutuhan.
2. Mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kejadian. Persepsi terhadap kejadian yang menimbulkan krisis, termasuk pokok-pokok pikiran dan ingatan yang berkaitan dengan kejadian tersebut, seperti :
 Apa arti makna kejadian terhadap individu.
 Pengaruh kejadian terhadap masa depan.
 Apakah individu memandang kejadian tersebut secara realistis.
 Dengan siapa tinggal, apakah tinggal sendiri, dengan keluarga, dengan teman.
 Apakah punya teman tempat mengeluh.
 Apakah bisa menceritakan masalah yang dihadapi bersama keluarga.
 Apakah ada orang atau lembaga yang dapat memberikan bantuan.
 Apakah mempunyai keterampilan menggantikan fungsi orang hilang.
 Perasaan diasingkan oleh lingkungan.
 Kadang-kadang menunjukkan gejala somatic.
3. Tentukan faktor-faktor penyeimbang yang ada, meliputi apakah klien memiliki persepssi yang realistis terhadap krisis yang terjadi, dukungan situasional (mis, keluarga, teman, sumber daya finansial, sumber daya spiritual, dukungan masyarakat), dan penggunaan mekanisme koping.
4. Identifikasi kelebihan klien.
5. Respon, meliputi lima fase, yaitu :
 Fase ini sudah termasuk kejadian itu sendiri dengan karakteristik : syok, panic, takut yang berlebihan, ketidakmampuan mengambil keputusan dan menilai realitas serta mungkin terjadi perilaku merusak diri.
 Terjadi suatu semangat kerjasama yang tinggi antara teman, tetangga, dan tim kedaruratan kegiatan yang konstruktif saat itu dapat mengatasi ansietas dan depresi. Akan tetapi aktifitas yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan keletihan.
 Fase ini mulai terlihat pada satu minggu sampai beberapa bulan setelah terjadi malapetaka. Kebutuhan bantuan orang lain berupa uang, sumber daya, serta dukungan dari berbagai pihak. Perkumpulan akan membantu memberikan masyarakat baru masalah psikologis dan masalah perilaku mungkin terselubung.
 Fase ini berakhir dalam 2 bulan s/d 1 tahun. Pada saat ini individu merasa sangat kecewa, timbul kebencian, frustasi dan perasaan marah. Korban sering membanding – bandingkan keadaan tetangganya dengan dirinya, dan mulai tumbuh rasa benci atau sikap bermusuhan terhadap orang lain.
 Individu mulai menyadari bahwa ia harus menghadapi dan mengatasi masalhnya. Mereka mulai membangun rumah, bisnis dan lingkungannya. Fase ini akan berakhir dalam beberapa tahun setelah terjadi musibah.

B. PERENCANAAN
Dinamika yang mendasari krisis ditetapkan alternatif penyelesaian, langkah-langkah untuk mencapai penyelesaian masalah, seperti : menentukan lingkungan pendukung dan memperkuat mekanisme koping.
C. TUJUAN
1. Membantu pasien agar dapat berfungsi lagi seperti sebelum mengalami krisis.
2. Meningkatkan fungsi pasien seperti dari sebelum terjadi krisis (bila mungkin).
3. Mencegah terjadinya dampak serius dari krisis misalnya bunuh diri.

D. TINDAKAN KEPERAWATAN
Tindakan keperawatan yang utama dapat dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu :
1. Manipulasi lingkungan. Ini adalah intervensi dengan merubah secara langsung lingkungan fisik individu atau situasi interpersonalnya, untuk memisahkan individu dengan stressor yang menyebabkan krisis.
2. Dukungan umum (general support). Tindakan ini dilakukan dengan membuat pasien merasa bahwa perawat ada disampingnya dan siap untuk membantu, sikap perawat yang hangat, menerima, empati, serta penuh perhatian merupakan dukungan bagi pasien.
3. Pendekatan genetic (genetic approach). Tindakan ini digunakan untuk sejumlah besar individu yang mempunyai resiko tinggi, sesegera mungkin. Tindakan ini dilakukan dengan metode spesifik untuk individu-individu yang menghadapi tipe krisis dan kombinasi krisis atau jika ada resiko bunuh diri / membunuh orang lain.
4. Pendekatan individual (individual approach). Tindakan ini meliputi penentuan diagnose, dan terapi terhadap masalah spesifik pada pasien tertentu. Pendekatan individual ini efektif untuk semua tipe krisis dan kombinasi krisis atau jika ada resiko bunuh diri/membunuh orang lain.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Koping individual yang tidak efektif berhubungan dengan perpisahan dengan orang lain yang dicintai, yang dimanifestasikan dengan menangis, perasaan tidak berharga dan bersalah.
2. Perubahan proses interaksi keluarga berhubungan dengan anggota keluarga yang dirawat di rumah sakit, ditandai dengan perasaan khawatir, takut, dan bersalah.

F. INTERVENSI
Diagnosa Pertama
TUJUAN : Pasien dapat mengungkapkan perasaan secara bebas.
INTERVENSI :
1. Membina hubungan saling percaya dengan lebih banyak memakai komunikasi non verbal.
2. Mengijinkan pasien untuk menangis.
3. Menunjukkan sikap empati.
4. Menyediakan kertas dan alat tulis jika pasien belum mau berbicara.
5. Mengatakan kepada pasien bahwa perawat dapat mengerti apabila dia belum siap untuk membicarakan perasaannya dan mungkin pasien merasa bahwa nanti perawat akan mendengarkan jika dia sudah bersedia berbicara.
6. Membantu pasien menggali perasaan serta gejala-gejala yang berkaitan dengan perasaan kehilangan.

Diagnosa Kedua
TUJUAN
Keluarga dapat mengungkapkan perasaannya kepada perawat atau orang lain.
INTERVENSI :
1. Melakukan pendekatan kepada anggota keluarga dengan sikap yang hangat, empati dan memberi dukungan.
2. Menanyakan kepada keluarga tentang penyakit yang diderita oleh anggota
keluarganya, seperti timbulnya penyakit, beban yang dirasakan, akibat yang diduga timbul karena penyakit yang didertita oleh anggota keluarga tersebut.
3. Menanyakan tentang perilaku keluarga yang sakit.
4. Menanyakan tentang sikap keluarga secara keseluruhan dalam menghadapi keluarga yang sakit.
5. Mendiskusikan dengan keluarga apa yang sudah dilakukan untuk mengatasi perasan cemas, takut, dan rasa bersalah.

G. EVALUASI HASIL
1. Perawat menggunakan kriteria hasil yang spesifik dalam menentukan efektifitas implementasi keperawatan.
2. Keselamatan klien, keluarga, dan masyarakat dapat dipertahankan sebagai hasil dari intervensi yang adekuat terhadap ekspresi perilaku yang tidak terkendali.
3. Klien mengidentifikasi hubungan antara stressor dengan gejala yang dialami selama krisis.
4. Klien mengevaluasi solusi yang mungkin dilakukan untuk mengatasi krisis klien memilih berbagai pilihan solusi.
5. Klien kembali ke keadaan sebelum krisis atau memperbaiki situasi atau perilaku.
















DAFTAR PUSTAKA


Dirjen Pelayanan Medik, DEPKES RI. 1994. Pedoman Perawatan Psikiatrik. Jakarta

Niven, Neil. 2000. Psikologi Kesehatan. Jakarta. EGC.

Maramis, W.E. 1980. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya. Airlangga University Press.

Isaacs, Ann. 2004. Panduan Belajar Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik edisi 3. Jakarta: EGC.
READ MORE - Askep pada Pasien Krisis

Askep Pasien Struma non Toksik

BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Struma koloid , difus, nontoksik dan nodular koloid merupakan gangguan yang sangat sering dijumpai dan menyerang 16 % perempuan dan 4 % laki-laki yang berusia antara 20 sampai 60 tahun seperti yang telah dibuktikan oleh suatu penyelidikan di Tecumseh, suatu komunitas di Michigan. Biasanya tidak ada gejala-gejala lain kecuali gangguan kosmetik, tetapi kadang-kadang timbul komplikasi-komplikasi. Struma mungkin membesar secara difus dan atau bernodula.
Struma endemic merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Sebab utamanya adalah efisiensi yodium, disamping faktor-faktor lain misalnya bertambahnya kebutuhan yodium pada masa pertumbuhan, kehamilan dan laktasi atau pengaruh-pengaruh zat-zat goitrogenik.
Goitrogenik sporadic dapat disebabkan factor genetic atau karena obat (iatrogenic) antara lain metal atau propiltiourasil ( PTU ), tolbutamid, sulfaguanidin, PAS dan lain-lain.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Memberikan penjelasan mengenai penyakit gangguan Struma.
2. Tujuan Khusus
 Menjelaskan teori dan konsep terkait dengan penyakit Struma.
 Memaparkan proses terjadinya gangguan Struma.
 Menerapkan teori dan konsep tersebut dan memberikan asuhan keperawatan pada pasien Struma.




BAB II
KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN
Struma adalah pembesaran kelenjar gondok yang disebabkan oleh penambahan jaringan kelenjar gondok yang menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah banyak sehingga menimbulkan keluhan seperti berdebar - debar, keringat, gemetaran, bicara jadi gagap, mencret, berat badan menurun, mata membesar, penyakit ini dinamakan hipertiroid (graves’ disease).
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme. (Sri Hartini, Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, hal. 461, FKUI, 1987).
Struma Diffusa toxica adalah salah satu jenis struma yang disebabkan oleh sekresi hormon-hormon thyroid yang terlalu banyak. Histologik keadaan ini adalah sebagai suatu hipertrofi dan hyperplasi dari parenkhym kelenjar.
Struma endemik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang disebabkan oleh asupan mineral yodium yang kurang dalam waktu yang lama.

B. ETIOLOGI
Hyperthyroid disebabkan oleh hypersekresi dari hormon-hormon thyroid tetapi yang mempengaruhi adalah faktor : umur, temperatur, iklim yang berubah, kehamilan, infeksi, kekurangan yodium dan lain-lain.

C. MANIFESTASI KLINIS
Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. Peningkatan simaptis seperti ; jantung menjadi berdebar-debar, gelisah, berkeringat, tidak tahan cuaca dingin, diare, gemetar, dan kelelahan.



D. ANATOMI
Kelenjar tyroid mempunyai dua lobus, struktur yang kaya vaskularisasi, lobus terletak di sebelah lateral trakea tepat dibawah laring dan dihubungkan dengan jembatan jaringan tiroid, yang disebut isthmus, yang terlentang pada permukaan anterior trakea. Secara mikroskopik, tiroid terutama terdiri atas folikel steroid, yang masing-masing menyimpan materi koloid dibagian pusatnya. Folikel memproduksi, menyimpan dan mensekresi kedua hormon utama T3 (triodotironin) dan T4 (tiroksin). Jika kelenjar secara aktif mengandung folikel yang besar, yang masing-masing mempunyai jumlah koloid yang disimpan dalam jumlah besar sel-selnya, sel-sel parafolikular mensekresi hormon kalsitonin. Hormon ini dan dua hormon lainnya mempengaruhi metabolisme kalsium. Hormon-hormon ini akan dibicarakan kemudian.

E. PATOFISIOLOGI
Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid.

F. PENATALAKSANAAN
Terapi struma antara lain dengan penekanan TSH oleh tiroksin, yaitu pengobatan yang akan mengakibatkan penekanan TSH hipofisis, dan penghambatan fungsi tiroid disertai atrofi kelenjar tiroid. Pembedahan dapat dianjurkan untuk struma yang besar untuk menghilangkan gangguan mekanis dan kosmetis yang diakibatkannya. Pada masyarakat tempat struma timbul sebagai akibat kekurangan yodium, garam dapur harus diberi tambahan yodium.




























BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan anamnesa dan akan diperoleh :
a) Identifikasi klien.
Meliputi Data Demografi Klien.
b) Keluhan utama klien.
Pada klien post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya adalah nyeri akibat luka operasi.
c) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin membesar sehingga mengakibatkan terganggunya pernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu dilakukan operasi.
d) Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit gondok, misalnya pernah menderita gondok lebih dari satu kali, tetangga atau penduduk sekitar berpenyakit gondok.
e) Riwayat kesehatan keluarga
Dimaksudkan barangkali ada anggota keluarga yang menderita sama dengan klien saat ini.
f) Riwayat psikososial
Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga ada kemungkinan klien merasa malu dengan orang lain.
2. Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum
Pada umumnya keadaan penderita lemah dan kesadarannya composmentis dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi, nadi, pernafasan dan suhu yang berubah.
b) Kepala dan leher
Pada klien dengan post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan kasa steril yang direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu diobservasi dalam dua sampai tiga hari.
c) Sistim pernafasan
Biasanya pernafasan lebih sesak akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena adanya darah dalam jalan nafas.
d) Sistim Neurologi
Pada pemeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri akan didapatkan ekspresi wajah yang tegang dan gelisah karena menahan sakit.
e) Sistim gastrointestinal
Komplikasi yang paling sering adalah mual akibat peningkatan asam lambung akibat anestesi umum, dan pada akhirnya akan hilang sejalan dengan efek anestesi yang hilang.
f) Aktivitas/istirahat
Insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot.
g) Eliminasi
Urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.
h) Integritas ego
Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi.
i) Makanan/cairan
Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid.
j) Rasa nyeri/kenyamanan
Nyeri orbital, fotofobia.
k) Keamanan
Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
l) Seksualitas
Libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi.

3. Pemeriksaan penunjang
a) Human thyrologlobulin( untuk keganasan thyroid)
b) Kadar T3, T4
c) Nilai normal T3=0,6-2,0 , T4= 4,6-11
d) Darah rutin
e) Endo Crinologiie minimal tiga hari berturut turut (BMR) nilai normal antara –10s/d +15
f) Kadar calsitoxin (hanya pada pebnderita tg dicurigai carsinoma meduler).
g) Pemeriksaan radiologis
h) Dilakukan foto thorak posterior anterior
i) Foto polos leher antero posterior dan lateral dengan metode soft tissu technig .
j) Esofagogram bila dicurigai adanya infiltrasi ke osofagus.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Adapun diagnosa yang sering timbul pada penderita post operasi theroidectomy adalah :
1. Gangguan jalan nafas yang berhubungan dengan obstruksi trakhea sekunder terhadap perdarahan, spasme laring yang ditandai dengan sesak nafas, pernafasan kuping hidung sampai dengan sianosis.
2. Gangguan komunikasi verbal sehubungan dengan nyeri, kerusakan nervus laringeal yang ditandai dengan klien sulit berbicara dan hilang suara.
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan dampak pembedahan, udema otot, terputusnya jaringan syaraf, yang ditandai ekspresi wajah tampak tegang.
4. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan salah interprestasi yang ditandai dengan sering bertanya tentang penyakitnya.
5. Potensial terjadinya perdarahan berhubungan dengan terputusnya pembuluh darah sekunder terhadap pembedahan.


C. PERENCANAAN
Rencana tindakan yang dilakukan pada klien post operasi thyroidectomy meliputi:
Diagnosa Pertama
1. Tujuan :
Jalan nafas klien efektif.
2. Kriteria :
Tidak ada sumbatan pada trachea.
3. Rencana tindakan :
a) Monitor pernafasan dan kedalaman dan kecepatan nafas.
b) Dengarkan suara nafas, barangkali ada ronchi.
c) Observasi kemungkinan adanya stridor, sianosis.
d) Atur posisi semifowler
e) Bantu klien dengan teknik nafas dan batuk efektif.
f) Melakukan suction pada trakhea dan mulut.
g) Perhatikan klien dalam hal menelan apakah ada kesulitan.
4. Rasional :
a) Mengetahui perkembangan dari gangguan pernafasan.
b) Ronchi bisa sebagai indikasi adanya sumbatan jalan nafas.
c) Indikasi adanya sumbatan pada trakhea atau laring.
d) Memberikan suasana yang lebih nyaman.
e) Memudahkan pengeluaran sekret, memelihara bersihan jalan nafas.dan ventilsassi
f) Sekresi yang menumpuk mengurangi lancarnya jalan nafas.
g) Mungkin ada indikasi perdarahan sebagai efek samping opersi.

Diagnosa Kedua
1. Tujuan :
Klien dapat komunikasi secara verbal.
2. Kriteria hasil :
Klien dapat mengungkapkan keluhan dengan kata-kata.
3. Rencana tindakan :
a) Kaji pembicaraan klien secara periodik
b) Lakukan komunikasi dengan singkat dengan jawaban ya/tidak.
c) Kunjungi klien sesering mungkin
d) Ciptakan lingkungan yang tenang.
4. Rasional :
a) Suara parau dan sakit pada tenggorokan merupakan faktor kedua dari odema jaringan / sebagai efek pembedahan.
b) Mengurangi respon bicara yang terlalu banyak.
c) Mengurangi kecemasan klien
d) Klien dapat mendengar dengan jelas komunikasi antara perawat dan klien.

Diagnosa Ketiga
1. Tujuan:
Rasa nyeri berkurang.
2. Kriteria hasil:
Dapat menyatakan nyeri berkurang, tidak adanya perilaku uyg menunjukkan adanya nyeri.
3. Rencana tindakan :
a) Atur posisi semi fowler, ganjal kepala /leher dengan bantal kecil
b) Kaji respon verbal / non verbal lokasi, intensitas dan lamanya nyeri.
c) Intruksikan pada klien agar menggunakan tangan untuk menahan leher pada saat alih posisi.
d) Beri makanan / cairan yang halus seperti es krim.
e) Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.
4. Rasional :
a) Mencegah hyperekstensi leher dan melindungi integritas pada jahitan pada luka.
b) Mengevaluasi nyeri, menentukan rencana tindakan keefektifan terapi.
c) Mengurangi ketegangan otot.
d) Makanan yang halus lebih baik bagi klien yang menjalani kesulitan menelan.
e) Memutuskan transfusi SSP pada rasa nyeri.

Diagnosa Keempat
1. Tujuan:
Pengetahuan klien bertambah.
2. Kriteria hasil :
Klien berpartisipasi dalam program keperawatan.
3. Rencana tindakan :
a) Diskusikan tentang keseimbangan nutrisi.
b) Hindari makanan yang banyak mengandung zat goitrogenik misalnya makanan laut,kedelai, Lobak cina dll.
c) Konsumsikan makanan tinggi calsium dan vitamin D.
4. Rasional :
a) Mempertahankan daya tahan tubuh klien.
b) Kontraindikasi pembedahan kelenjar thyroid.
c) Memaksimalkan suplai dan absorbsi kalsium.

Diagnosa Kelima
1. Tujuan :
Perdarahan tidak terjadi.
2. Kriteria hasil :
Tidak terdapat adanya tanda-tanda perdarahan.
3. Rencana tindakan :
a) Observasi tanda-tanda vital.
b) Pada balutan tidak didapatkan tanda-tanda basah karena darah.
c) Dari drain tidak terdapat cairan yang berlebih.( > 50 cc).
4. Rasional :
a) Dengan mengetahui perubahan tanda-tanda vital dapat digunakan untuk mengetahui perdarahan secara dini.
b) Dengan adanya balutan yang basah berarti adanya perdarahan pada luka operasi.
c) Cairan pada drain dapat untuk mengetahui perdarahan luka operasi.

D. EVALUASI
1. Teruskan bila masalah masih ada.
2. Revisi / modifikasi bila masalah ada tetapi rencana diubah.
3. Terpecahkan jika masalah berhasil dipecahkan.


























DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, 2000, Diagnosa Keperawatan, Alih Bahasa : Yasmin Asih, Editor : Tim Editor EGC Edisi 26, EGC Jakarta

Prince S.A, Wilson L.M, 2006, Patofisologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran : EGC, Jakarta

Brunner dan Suddarth, (2001) Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, volume 2, penerbit EGC.
Guyton, C. Arthur, (1991), Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Missisipi; Departemen of Physiology and Biophysis. EGC. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.

Junadi, Purnawan,(2000), Kapita Selekta Kedokteran, edisi ke III, penerbit FKUI, Jakarta.

Long, Barbara C, (1996), Keperawatan Medikal Bedah, EGC. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.

Tucker, Susan Martin(1998), Standar Perawatan Pasien, Penerbit buku kedokteran, EGC. Jakarta.
READ MORE - Askep Pasien Struma non Toksik

Askep Konsep Diri

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam kehidupan modern ini menyebabkan pola kehidupan dan kebutuhan yang semakin kompleks. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi secara informasi bepengaruh besar dalam pola pertumbuhn antar manusia dan informai semakin singkat, dalam kondisi sperti ini akan membawa banyak perubahan dalam tatanan hidup mayarakat yan menuntut inividu selalu beradaptasi dengan perubahan tersebut guna mempertahankan keseimbangan agar selalu sehat baik fisik, mental, maupun sosial.

Hasil riset WHO menyimpulkan bahwa gangguan jiwa dapat mengakibatkan penurunan produktivitas sampai 8,5%, saat ini gangguan jiwa menempati urutan kedua setelah penykit infeksi dengan 11,5% daily loss.

Kecenderungan (trend) gangguan mental akan semakin meningkat seiring dengan terus bertambahnya situasi ekonomi dan politik kearah yang tidak menentu, prevalensinya bukan saja pada kalangan menengah sebagai dampak langsung dari dampak ekonomi tetapi juga kalangan menengah keatas. Salah satu respon yang ditibulkan oleh gangguan jiwa adalah gangguan konsep diri seperti perasaan tidak berdaya, tidak berguna, kurang pecaya diri dan harga diri rendah. Oleh karena itu perawatan harus mempunyai kemampuan pofesional dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya pada tingkat individu dan keluarga.

Dengan mempetimbangkn latar belakan tersebut diatas maka kami selaku penulis, tetarik untuk menerapkan suatu metode asuhan keperawatan dalam bentuk makalah dengan judul “asuhan keperawatan jiwa dengan gangguan konsep diri”.



BAB II
KONSEP DASAR

A. Definisi
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya.

Sedangkan menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986) menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual , social dan spiritual.

Potter & Perry (1993), konsep diri adalah merefleksikan pengalaman interaksi sosial, sensasinya juga didasarkan bagaimana orang lain memandangnya.

Beck William Rowles (1993), mendefinisikan konsep diri sebagai cara memandang individu terhadap diri secara utuh baik fisik, emosi, intelektual, sosial & spiritual.
Secara umum, konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara kita memandang diri kita secara utuh, meliputi: fisik, intelektual, kepercayaan, sosial, perilaku, emosi, spiritual, dan pendirian


B. Rentang Respon Konsep Diri
Konsep diri didefinisikan sebagai mana pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman hidup seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realitas dunia. Konsep diri terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut:

1. Identitas personal adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh (Stuart and Sudeen, 1991).
Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan dan penyesuaian diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Identitas diri terus berkembang sejak masa kanak kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin (Keliat,1992). Identitas jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap dimulai dengan konsep laki-laki dan wanita banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap masing-masing jenis kelamin tersebut.

2. Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan perspsi dan pengalaman yang baru.

3. Ideal diri adalah persepsi individ utentang bagaimana dia seharusnya berprilaku berdasarkanstandar, aspirasi, tujuan, atau nilai personal.


4. Penampilan peran adalah serangkaian pola perilaku yang diharapkan pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan social berhubungan dengan fungsi individu diberbagai kelompok social. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang diterma adalah peran yang ter[pilah atau dipilih oleh individu.

5. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai deangan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar dalam penerimaan diri sendiri tanpa syrat, walaupun melakukan kesalahan dan kegagalan, tetap merasa sebagai orang yang penting dan berharga.

C. Kepribadian yang Sehat
Individu dengan kepribadian yang sehat akan mengalami hal-hal berikut ini:
1. Citra tubuh positif dan sesuai
2. Ideal diri yang realistic
3. Konsep diri yang positif
4. Harga diri yang tinggi
5. Penampilan peran yang memuaskan
6. Rasa identitas yang jelas.

Respon konsep diri sepanjang rentang sehat- sakit berkisar dari status aktualisasi diri yng paling adaptif serta dipersonalisasi. Keracunan identitas merupakan suatu kegagalan individu untuk mengintegrasikan berbagai identifikasi maasa kanak-kanak dalam kepribadian psikososial dewasa yang harmonis. Depersonalisasi ialah suatu perasaan tidak realistis dan keasingan dari diri sendiri. Ini berhubungan dengan tingkat ansietas panik dan kegagalan dalam pengujian realitas. Individu mengalami kesulitan untuk membedakan diri sendiri dari seorang lain, dan tubuhnya sendiri merasa tidak nyata dan asing baginya.

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri
Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari teori perkembangan, Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan Self Perception (persepsi diri sendiri).
1. Teori perkembangan.
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.

2. Significant Other ( orang yang terpenting atau yang terdekat )
Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi.

3. Self Perception ( persepsi diri sendiri )
Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan social yang terganggu.






BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN
Pengumpulan data yang dilakukan oleh perawat meliputi perilaku yang objektif dan teramati serta bersifat subjektif dan dunia dalam pasien sendiri.
Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah
• Mengritik diri sendiri atau orang lain
• Penurunan produktivitas
• Destruktif yang diarahkan pada orang lain
• Rasa diri penting yang berlebihan
• Perasaan yang tidak mampu
• Rasa bersalah
• Mudah tersinggung atau maarh yang berlebihan
• Keluahn fisik
• Pandangan hidup yang bertentangan
• Penolakan terhadap kemampuan personal
• Menarik diri secara social
• Khawatir
Perilaku yang berhubungan denga kerancuan identitas
 Tidak ada kode moral
 Sifat kepriibadian yang bertentangan
 Hubungan interpersonal eksploitatif
 Perasaan hampa
 Perasaan mengambang terhadap diri sendiri
 Tingkat anisietas yang tinggi
 Ketidak mampuan untuk empati dengan orang lain
Perilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi afektif
 Menaglami kehilangan identitas
 Perasaan terpisah dar diri sendiri
 Perasaan tidak aman, takut, malu
 Perasaan tidak realistic
 Rasa terisolasi yang kuat
 Kurang rasa kesinambungan diri
 Ketidak mampuan untuk mencari perasaan untuk mencapai sesuatu
 Perceptual
 Halusinasi pendengaran dan penglihatan
 kebingungan tentang seksualitas diri sendiri
 kesulitan membedakan diri orang lain
 gangguan citra tubuh
Perilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi kognitif
 bingung
 gangguan daya ingat
 gangguan berfikir
 adanya kepribadian yang terpisah
 diorientasi waktu
 keadaan emosi yang pasif dan tidak berepons
 kurang spontalitas dan idiosinkratik
 kehilangan kendali terhadap impuls



Faktor Prediposisi
Berbagai factor penunjang terdirinya prubahan dalam konsep diri seseorang. Factor ini dapat dibagi sbb:
1. Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orangtua, harapan orang tua yang tidak realistik, kegagalan yang berulang kali, ketergantungan pada orang lain, dan ideal diri yang tidak realistik
2. Faktor yang mempengaruhi hubungan peran adalah strotipik peran seks, tuntunan peran kerja, dan harapan peran cultural
3. Factor yang mempengaruhi identitas personal meliputi ketidakpercayaan orangtua, tekanan dari kelompok sebaya, da perubahan dalam struktur social.

Stressor Pencetus
Stressor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal:
1. trauma seperti penganiyayaan seksul dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan
2. ketegangan peran berhubbungan dengan posisi yang diharapkan dimana individu mengalaminya sebagai frustasi. Ada 3 jenis frustasi, yaitu:
o transisi peran perkembangan adalah perubahan normative yang berkaitan dengan petumbuhan. Perubahn ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilainya tertekan untuk penyesuaian diri.
o Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran tau kematian.
o Transmisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini dimunhgkinkan oleh karena: kehilangan anggota tubuh, perubahn penampilan dan fungsi tubuh, perubahan fisik berhubungan dengan tumbuh kembang normal.


Sumber-Sumber Koping
Semua orang betapapun terganggu perilakunya, tetap mempunyai beberapa kelebihan personal yang mungkin meliputi:
- Aktivitas olahraga dan aktivitas lalu diluar tubuh
- Hoby dan kerajinan tangan
- Seni yang ekspresif
- Kesehatan dan perawatan diri
- Hubungan interpersonal
- Bakat
- Kecerdasan
- Imaginasi dan kreativitas

Mekanisme Koping
Mekanisme koping termasuk pertukaran koping jangka pendek dan jangka panjang serta penggunaan mekanisme pertahanan ego untuk melindungi diri sendiri dalam menghadapi perse[si diri yang menyulitkan.
a. Pertahanan jangka pendek meliputi:
1. Aktivitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari krisis identitas(misalnya: konser music, bekerja keras, menonoton TV)
2. Aktivitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara (misalnya: ikut serta dalam aktivitas social, agama, hubungan politik, kelompok atau geng)
3. Aktivitas yang secara sementara menguatkan perasaan diri (misalnya: olaharaga yang kompetitif, pencapaian akademik, kontek untuk mendapatkan popularitas)
4. Aktivitas yang mewakili upaya jangka pendek untuk membuat masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan individu (misalnya: penyalah gunaan obat)


b. Pertahanan jangka panjang termasuk berikut ini:
1. penutupan identitas-adopsi identitas premature yang diinginakan oleh orang yang penting bagi individu tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi dan potensi dari individu tersebut.
2. Identitas (asuransi identitas) yang wajar uantuk dapat diterima oleh nilai dan harapan masyarakat

c. Mekanisme pertahanan ego, termasuk pengalaman fantasi, disosiasi, isolasi, proteksi, pergeseran (displacement), percetakan (spilitting), berbalik marah terhadap diri sendiri, dan amuk



II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Masalah-masalah konsep diri berkaitan dengan perasaan anxietas, bermusuhan dan rasa bersalah. Perasaan ini sering menimbulkan proses penyebaran diri dan sirkuler bagi individu yang dapat menimbulkan respons koping malladaptif yang hebat.
Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan respon konsep diri, yaitu:
Gangguan identitas personal
-ketidakberdayaan

Gangguan citra tubuh:
-komunikasi, kerusakan verbal
-koping individu inefektif
-berduka, disfungsi
-keputusasaan

Ideal diri tidak realitas
Perubahan penampilan peran
¬-defisit peran diri

Gangguan harga diri
-perubahan sensori / persepsi
-perubahan pola seksualitas
-kerusakan interaksi soial
-isolasi social : menarik diri.



III. INTERVENSI
Intervensi keperawatan membantu klien memeriksa penilaian kiognitif dirinya terhadap situasi yang berrhubungan dengan perasaan untuk membantu klien meningkatkan penghayatan diri dan kemudia melakukan tindakan untuk mengubah perilaku pendekatan penmyelesaian masalah iini memerlukan tingkat intervensi yang progresif, sbb:

1. Meluaskan kesadaran diri
Tujuan: meluaskan kesadaran diri klien
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
Bina hubungan terbuka, saling percaya:
1.tawarkan penerimaan tanpa syarat
2.dengarkan klien
3.dukung pembahasan pikiran dan perasaan klien
4.berespon tanpa mendakwa
Kurangii ancaman yang terlihat dalam sikap perawat terhadap klien untuk meluaskan dan menerimansemua aspek kepribadian
Bekerja dengan klien bagaimanapun kekuatan egonya:
1.mulai dengan meyakinkan identitas klien
2.dekati klien dengan cara tidak manuntut
3.cegah klien dari pengisolasian diri
4.orientasi klien terhadap realitas
5.buat perilaku yang sesuai
6.dukung klien dalam asuhan mandiri Kekuatan ego tingkat tertentu, seperti kapasitas untuk uji realitas, control diri atau tingkat integritas ego, dibutuhkan sebagai dasar askep kemudian
Maksimalkan pesan serta klien dalam hubungan terapeutik :
1.tingkatkan peran serta klien secara bertahap dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan asuhan dirinya
2.sampaikan bahwa klien adlah individu yang bertanggungjawab Timbale balik diperlukan bagi klien untuk menerima tanggung jawab terhadap perilaku dan respons koping yang modulatif

2. Eksplorasi diri
Tujuan : mendukung eksplorasi diri pasien
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
Bantu klien untuk menerima perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya:
1.dukung ekspresi emosi, keyakinan, perilaku dan pikiran pasien
2.gunakan keterampilan komunikasi terapeutik dan respon simpatik Dengan menunjukkan minat dan penerimaan terhadap perasaan dan pikiran klien, perawat membantu klien untuk melakukan hal yang sama
Bantu klien mengklasifikasi konsep diri dan hubungan dengan orang lain melalui pengungkapan diri:
1.bangkitkan persepsi klien tentang kelebihan dan kekurangan diri yang dimiliki
2.identifikasikan kritik diri klien
3.bantu klien untuk menguraikan keyakinan tentang bagaimana ia berhubungan dengan orang lain dan dengan peristiwa Pengungkapan diri dan pemahaman terhadap persepsi diri diperlukan untuk membawa perubahan yang akan datang, pengungkapan diri dapat mengurangi ansietas
Waspada dan kendalikan perasaan anda sendiri :
1.terbuka terhadap perasaan anda sendiri.
2.terima perasaan (+) dan (-)
3.gunakan diri secara terapeutik dengan :
-berbagi perasaan anda dengan klien
-mengungkapkan tentang apa yang mungkin orang lain rasakan
-mencerminkan persepsi anda terhadap perasaan klien Kesadaran sendiri memungkinkan perawat memberikan model perilaku autentif dan membatasi pengaruh negative kontertransferens dalam hubungan
Berespons empatik, bukan simpatik, tekankan bahwa kekuatan untuk berubah berada pada klien :
1.gunakan respons empatik dan pantau diri anada terhadap perasaan simpati/kasihan
2.tegaskan bahwa klien bukan tak berdaya/tidak kuasa dalam menghadapi masalah
3.tunjukkan pada klien baik secara verbal maupun melalui prilaku bahwa klien bertanggung jawab terhadap prilakunya sendiri termasuk memilih respons koping yang adatif/maladaptive
4.gunakan system pendukung dari keluarga dan kelompok untuk memfasilitsi eksplorasi diri klien
5.bantu klien dalam mengenali sifat konflik dan respons koping maladaptif Simpati dapat menimbulkan rasa kasihan klien, sebaiknya perawat harus mengomunikasikan bahwa situasi kehidupan klien memerlukan kendali diri.

3. Evaluasi diri
Tujuan : membantu evaluasi diri klien
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
Bantu klien untuk menjabarkan maslah secara jelas :
1.identifikasi stressor yang relevan dan penilaian klien terhadap stressor.
2.klasifikasi bahwa keyakinan klien mempengaruhi perasaan dan perilakunya
3. identifikasi bersama keyakinan yang salah, persepsi yang tidak benar, jiwa dan tujuan yang tidak realistic
4.identifikasi bersama area kekuatan
5.tempatkan konsep keberhasilan dan kegagalan dalam pandangan yang sesuai
6.gali penggunaan sumber koping klien Hanya setelah masalah dijabarkan dengan benar, pilihan alternative dapat diusulkan




Gali respon adaptif dan mal adaptif klien terhadap masalah:
1.Uraikan kepada pasien bahwa semua respon koping dapat dipilih dan mempunyai akibat, baik positf maupun negative
2.Bandingkan respon adaptif dan maladaptive
3.identifikasi bersamaan kewrugian respon koping yang maladaptive.
4.Identifikasi bersamaan keuntungan atau hasil respon koping adaptif.
5.Bahas bagaimana hasil tersebut mendukung penggunaan respon koping adaptif selanjutnya.
6.Gunakan berbagai keterampilan terapeutik,seperti:
-Komunikasi fasilitatif
-Konfrontasi suportif
-Klasifikasi peran
-Reaksi transforens dan kontertransferens dalam hubungan perawat-klien
-Klien kodrama Penggalian koping tersebut penting untuk memeriksa pilihan koping klien dan mengevaluasi akibat positif dan negative.

4. Perencanaan yang Realistik
Tujuan: membantu klien dalam merumuskan rencana tindakan yang realistik
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
Bantu klien mengidentifikasi solusi alternative:
1.bantu klien memahami bahwa hanya dia yang dapat menhgubah dirinya, bukan orang lain.
2.tinjau bersama bagaimana klien dapat lebih baik menggunakan sumber koping
3.bantu klien untuk melihat bahwa dia dapat mengubah keyakinan atau ideal mendekati suatu kenyataan hanya setelah semua alternative yang memungkinkan dia dievaluasi baru dapat terjadi suatu perubahan.
Bantu klen mengkonsepsualisasi tujuan yang realistik:
1.dorong klien untuk merumuskan tujuannya sendiri bukan tujuan perawat.
2.bantu klien untuk menjabarkan secarajelas perubahan konkrit yang diinginkan.
3.gunakan latihan peran, contoh peran, permainan peran, dan visualisasi jika sesuai Penetapan tujuan harus mencakup jabatan yang jelas tentang perubahan yang diharapkan

5. Komitmen terhadap tindakan
Intervensi keperawatan
Bantu klien melakukan tindakan yang diperlukan untuk mengubah respons koping malladaptif dan mempertahankan respons koping yang adaptif:
1.berikan kesempatan kepada klien untuk mengalami suatu keberhasilan
2.dukung kekuatan, keterampilan, dan aspek yang sehat dari kepribadian klien.
3.dukung klien untuk untuk memperoleh bantuan pekerjaan, financial, pelayanan masyarakat. Gunakn kelompok untuk meningkatkan harga diri klien.
4.beri sejumlah dukungan yang sesuai dan positif untuk membantu klien memperthankan kemajuannya Tujuan utama dalam meningkatkan penghayatan adalah membuat klien mengganti respons koping yang malladaptif dengan yang lebih adaptif.








IV. EVALUASI
Evaluasi adalah persepsi yang berekelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus-menerus pada respon klien tehadap tindakan perawatan yang telah dilaksanakan. Adapun indikator untuk mengevaluasi respons konsep diri malladaptif adalah sbb:
1. Apakah ancaman terhadap integritas fisik atau system diri klien telah menurun dalam sifat, jumlah, atau waktu?
2. Apakah perilakun klien mencerminkan penerimaan diri, nilai, diri, dan persetujuan diri yang lebih besar?
3. Apakah sumbe koping klien sudah dikaji dan dikerahakan secara adekuat?
4. Apakah klien sudah meluaskesadarean diri dan melakukan eksplorasi dan evaluasi diri?
5. Apakah klien menggunakan respons koping yang adaptif?
















BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Secara umum, konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara kita memandang diri kita secara utuh, meliputi: fisik, intelektual, kepercayaan, sosial, perilaku, emosi, spiritual, dan pendirian.
Konsep diri terdiri dari beberapa bagian yaitu:
a) identitas diri
b) Citra tubuh
c) Ideal diri
d) Penampilan peran
e) Harga diri

B. SARAN
Sebagai manusia biasa yang tidak pernah lupuk dari kesalahan, maka sangatlah kami sadari bahwasanya dalam penulisan makalah ini masih terdapat berbagai macam kesalahan, olehnya itu saran dan kritik yang bersifat membangun kami harapkan demi kesempurnaan penulisan selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat berguna bagi masyarakat khalayak. Amiiin….
READ MORE - Askep Konsep Diri

Senin, 26 April 2010

Askep Asma

ASMA

KONSEP MEDIS
I. PENGERTIAN
Asma adalah penyakit yang disebabkan oleh peningkatan respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam –macam stimuli yang ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih – lebihan dari kelenjar – kelenjar di mukosa bronchus

II. ETIOLOGI
1. Faktor Ekstrinsik
Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya IgE yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara (antigen – inhalasi ), seperti debu rumah, serbuk – serbuk dan bulu binatang
2. Faktor Intrinsik
• Infeksi :
- virus yang menyebabkan ialah para influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV)
- bakteri, misalnya pertusis dan streptokokkus
- jamur, misalnya aspergillus
• cuaca :
perubahan tekanan udara, suhu udara, angin dan kelembaban dihubungkan dengan percepatan
• iritan bahan kimia, minyak wangi, asap rokok, polutan udara
• emosional : takut, cemas dan tegang
• aktifitas yang berlebihan, misalnya berlari

III. PATOLOGI
Asma ialah penyakit paru dengan cirri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap barbagai ransangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma. Kelainan yang didapatkan adalah:
1. Otot bronkus akan mengkerut ( terjadi penyempitan)
2. Selaput lendir bronkus udema
3. Produksi lendir makin banyak, lengket dan kental, sehingga ketiga hal tersebut menyebabkan saluran lubang bronkus menjadi sempit dan anak akan batuk bahkan dapat sampai sesak napas. Serangan tersebut dapat hilang sendiri atau hilang dengan pertolongan obat.
Pada stadium permulaan serangan terlihat mukosa pucat, terdapat edema dan sekresi bertambah. Lumen bronkus menyempit akibat spasme. Terlihat kongesti pembuluh darah, infiltrasi sel eosinofil dalam secret didlam lumen saluran napas. Jika serangan sering terjadi dan lama atau menahun akan terlihat deskuamasi (mengelupas) epitel, penebalan membran hialin bosal, hyperplasia serat elastin, juga hyperplasia dan hipertrofi otot bronkus. Pada serangan yang berat atau pada asma yang menahun terdapat penyumbatan bronkus oleh mucus yang kental.
Pada asma yang timbul akibat reaksi imunologik, reaksi antigen – antibody menyebabkan lepasnya mediator kimia yang dapat menimbulkan kelainan patologi tadi. Mediator kimia tersebut adalah:
a. Histamin
- Kontraksi otot polos
- Dilatasi pembuluh kapiler dan kontraksi pembuluh vena, sehingga terjadi edema
- Bertambahnya sekresi kelenjar dimukosa bronchus, bronkhoilus, mukosaa, hidung dan mata
b. Bradikinin
- Kontraksi otot polos bronchus
- Meningkatkan permeabilitas pembuluh darah
- Vasodepressor (penurunan tekanan darah)
- Bertambahnya sekresi kelenjar peluh dan ludah
c. Prostaglandin
- bronkokostriksi (terutama prostaglandin F)

IV. MANIFESTASI KLINIK
1. Wheezing
2. Dyspnea dengan lama ekspirasi, penggunaan otot- otot asesori pernapasan
3. pernapasan cuping hidung
4. batuk kering ( tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan napas sempit
5. diaphoresis
6. sianosis
7. nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernapasan
8. kecemasan, labil dan penurunan tingkat kesadarn
9. tidak toleran terhadap aktifitas : makan, bermain, berjalan, bahkan bicara

V. STADIUM ASMA
1. Stadium I
Waktu terjadinya edema dinding bronkus, batuk proksisimal, karena iritasi dan batuk kering. Sputum yang kental dan mengumpul merupakan benda asing yang merangsang batuk
2. Stadium II
Sekresi bronkus bertambah banyak dan batuk dengan dahak yang jernih dan berbusa. Pada stadium ini anak akan mulai merasa sesak napas berusaha bernapas lebih dalam. Ekspirasi memanjang dan terdengar bunyi mengi. Tampak otot napas tambahan turut bekerja. Terdapat retraksi supra sternal, epigastrium dan mungkin juga sela iga. Anak lebih senang duduk dan membungkuk, tangan menekan pada tepi tempat tidur atau kursi. Anak tampak gelisah, pucat, sianosisi sekitar mulut, toraks membungkuk ke depan dan lebih bulat serta bergerak lambat pada pernapasan. Pada anak yang lebih kecil, cenderung terjadi pernapasan abdominal, retraksi supra sternal dan interkostal.
3. Stadium III
Obstruksi atau spasme bronkus lebih berat , aliran udara sangat sedikit sehingga suara napas hampir tidak terdengar.
Stadium ini sangat berbahaya karena sering disangka ada perbaikan. Juga batuk seperti ditekan. Pernapasan dangkal, tidak teratur dan frekuensi napas yang mendadak meninggi.

VI. KOMPLIKASI
1. Status asmatikus
2. Bronkhitis kronik, bronkhiolus
3. Ateletaksis : lobari segmental karena obstruksi bronchus oleh lender
4. Pneumo thoraks
Kerja pernapasan meningkat, kebutuhan O2 meningkat. Orang asam tidak sanggup memenuhi kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan m ukus yang kental. Situasi ioni dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya teklanan untuk melakukan ventilasi
5. Kematian

VII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Riwayat penyakit atau pemeriksaan fisik
2. Foto rontgen dada
3. Pemeriksaan fungsi paru : menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum
4. Pemeriksaan alergi (radioallergosorbent test ; RAST)
5. Analisa gas darah – pada awalnya pH meningkat, PaCO2 dan PaO2 turun (alkalosis respiratori ringan akibat hiperventilasi ); kemudian penurunan pH, penurunan PaO2 dan peningkatan PaCO2 (asidosis respiratorik)

VIII. PENATALAKSANAAN
1. Pencegahan terhadap pemajanan alergi
2. Serangan akut dengan oksigen nasal atau masker
3. Terapi cairan parenteral
4. Terapi pengobatan sesuai program
- Beta 2-agonist untuk mengurangi bronkospasme, mendilatasi otot polos bronchial
• Albuterol (proventil, ventolin)
• Tarbutalin
• Epinefrin
• Metaprotenol
- Metilsantin, seperti aminofilin dan teofilin mempunyai efek bronkodilatasi
- Antikolinergik, seperti atropine metilnitrat atau atrovent mempunyai efek bronchodilator yang sangat baik
- Kortikosteroid diberikan secara IV (hidrokortison), secara oral (mednison), inhalasi (deksametason)


KONSEP KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Riwayat asthma atau alergi dan serangan asthma yang lalu, alergi dan masalah pernapasan
2. Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit dan pengobatan
3. Riwayat psikososial: factor pencetus, stress, latihan, kebiasaan dan rutinitas, perawatan sebelumnya
4. Pemeriksaan fisik
a. Pernapasan
- Napas pendek
- Wheezing
- Retraksi
- Takipnea
- Batuk kering
- Ronkhi
b. Kardiovaskuler
- Takikardia
c. Neurologis
- Kelelahan
- Ansietas
- Sulit tidur
d. Muskuloskeletal
- Intolerans aktifitas
e. Integumen
- Sianosis
- pucat
f. Psikososial
- Tidak kooperatif selama perawatan
5. Kaji status hidrasi
- Status membran mukosa
- Turgor kulit
- Output urine
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas b.d. bronkospasme dan udema mukosa
2. Kelelahan b.d. hipoksia dan peningkatan kerja pernapasan
3. Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. distress GI
4. Resiko kekurangan volume cairan b.d. meningkatnya pernapsan dan menurunnya intake oral
5. Kecemasan b.d. hospitalisasi dan distress pernapasan
6. Perubahan proses keluarga b.d. kondisi kronik
7. Kurang pengetahuan b.d. proses penyakit dan pengobatan]

III. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas b.d. bronkospasme dan udema mukosa
Tujuan :
- anak akan menunjukkan perbaikan pertukaran gas ditandai dengan :
o tidak ada wheezing dan retraksi
o batuk menurun
o warna kulit kemerahan
- anak tidak menunjukkan gangguan ketidakseimbangan asam basa yang ditandai dengan saturasi oksigen  95 %
Intervensi:
a. Kaji RR, auskultasi bunyi napas
R/: sebagai sumber data adanya pewrubahan sebelum dan sesudah perawatan diberikan
b. Beri posisi high fowler atau semi-fowler
R/; mengembangkan ekspansi paru
c. Dorong anak untuk latihan napas dalam dan batuk efektif
R/: membantu membersihkan mucus dari p[aru dan napas dalam memperbaiki oksigenasi
d. Lakukan suction jika perlu
R/: membantu mengeluarkan secret yang tidak dapat dikeluarkan oleh anak sendiri
e. Lakukan fisioterapi
R/: membantu pengeluaransekresi, menmingkatkan ekspansi paru
f. Berikan oksigen sesuai program
R/ : memperbaiki oksigenasi dan mengurangi sekresi
g. Monitor peningkatn pengeluaran sputum
R/: sebagai indikasi adanya kegagalan pada paru
h. Berikan bronchodilator sesuai indikasi
R/: otot pernapasan menjadi relaks dan steroid mengurangi inflamasi

2. Kelelahan b.d. hipoksia dan peningkatan kerja pernapasan
Tujuan : Anak menunjukkan penurunan kelelahan ditandai dengan tidak iritabel, dapat berpartisipasi dan peningkatan kemampuan dalam beraktifitas
Intervensi :
a. Kaji tanda – tanda hipoksia / hypercapnea ; kelelahan, agitasi, peningkatan HR, peningkatan RR
R/: deteksi dini untuk mencegah hipoksia dapat mencegah keletihan lebih lanjut
b. Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup
R/: Istirahat yang cukup dapat menurunkan stress dan meningkatkan kenyamanan
c. Minta orang tua untuk selalu menemani anak
R/: Menurunkan ketakutan dan kecemasan
d. Berikan istirahat cukup dan tidur 8 – 10 jam tiap malam
R/: istirahat cukup dan tidur cukup menurunkan kelelahan dan meningkatkan resistensi terhadap infeksi
e. Ajarkan teknik manajemen stress
R/ : Bronkospasme mungkin disebabkan oleh emosional dan stress

3. Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. distress GI
Tujuan : Anak akan menunjukkan penurunan distress GI ditandai dengan:
Penurunan nausea dan vomiting, adanya perbaikan nutrisi / intake


Intervensi:
a. Berikan porsi makan kecil tapi sering 5 – 6 kali sehari dengan makanan yang disukainya
R/: makanan kecil tapi sering menyediakan energi yang dibutuhkan , lambung tidak terlalu penuh, sehingga memberikan kesempatan untuk penyerapan makanan. Makanan yang disukai mendporong anak untuk makan dan meningkatkan intake
b. Berikan makanan halus, rendah lemak, gunakan warna
R/: Makanan berbumbu dan tinggi lemak dapat meningkatkan distress pada GI sehingga sulit dicerna
c. Anjurkan menghindari makanan yang menyebabkan alergi
R/:Dapat menimbulkan serangan akut pada anak yang sensitive

4. Resiko kekurangan volume cairan b.d. meningkatnya pernapsan dan menurunnya intake oral
Tujuan :
Anak dapat mempertahankan hidrasi yang adekuat ditandai dengan turgor kulit elastis, membrane mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan, output urine : 1-2 ml/kg BB/jam
Intervensi:
a. Kaji turgor kulit, monitor urine, output tiap 4 jam
R/: untuk mengetahui tingkat hidrasi dan kebutuhan cairannya
b. Pertahankan terapi parenteral sesuai indikasi dan monitor kelebihan cairan
R/: kelebihan cairan dapat menyebabkan udema pulmonar
c. Setelah fase akut, anjurkan anak dan orangtua untuk minum 3-8 gelas / hari, tergantung usia dan berat badan anak
R/: anak membutuhkan cairan yang cukup untuk mempertahankan hidrasi dan keseimbangan asam basa untuk mencegah syok

5. Kecemasan b.d. hospitalisasi dan distress pernapasan
Tujuan :
Kecemasan menurun, ditandai dengan anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya

Intervensi:
a. Ajarkan teknik relaksasi; latihan napas dalam, imajinasi terbimbing
R/: pengalihan perhatian selama episode asma dapat menurunkan ketakutan dan kecemasan
b. Berikan terapi bermain sesuai indikasi
R/: terapi bermain dapat menurunkan efek hospitalisasi dan kecemasan
c. Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak
R/: menurunkan rasa takut dan kehilangan control akan dirinya




DAFTAR PUSTAKA


Betz L. Cecily. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta. 2002

Dina Dr,dr,. Penatalaksanaan Penyakit Alergi. Airlangga University Press. Surabaya. 1993

Speer Kathleen Morgan.Pediatric Care Planning Ashwill, third edition. Pediatric Nurse Practitioner Childrens Medical Center of Dallas. Springhouse Corporation. Springhouse Pennsylvania. 1999

Ngastiyah. Perawatan anak Sakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1997

Corwin, J. Elizabeth. Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
Jakarta. 2000

Suriadi, SKp., Rita, SKp. Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 1. CV Sagung Seto. Jakarta, 2001
READ MORE - Askep Asma

Selasa, 13 April 2010

Asuhan Keperawatan Apendisitis

ASKEP APENDISITIS
Pengertian
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).

Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007)

Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)

Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks ( Anonim, Apendisitis, 2007)
Klasifikasi
Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni :
Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.

Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.
Anatomi dan Fisiologi Appendiks merupakan organ yang kecil dan vestigial (organ yang tidak berfungsi) yang melekat sepertiga jari.
Letak apendiks.
Appendiks terletak di ujung sakrum kira-kira 2 cm di bawah anterior ileo saekum, bermuara di bagian posterior dan medial dari saekum. Pada pertemuan ketiga taenia yaitu: taenia anterior, medial dan posterior. Secara klinik appendiks terletak pada daerah Mc. Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang menghubungkan sias kanan dengan pusat.
Ukuran dan isi apendiks.
Panjang apendiks rata-rata 6 – 9 cm. Lebar 0,3 – 0,7 cm. Isi 0,1 cc, cairan bersifat basa mengandung amilase dan musin.
Posisi apendiks.
Laterosekal: di lateral kolon asendens. Di daerah inguinal: membelok ke arah di dinding abdomen. Pelvis minor.
Etiologi
Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras ( fekalit), hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid. (Irga, 2007)
Patofisiologi
Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan oleh fekolit (massa keras dari faeces) atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus.
Manifestasi Klinik
Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari : Mual, muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan daerah ini, penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-38,8° Celsius.
Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. (Anonim, Apendisitis, 2007)
Pemeriksaan diagnostik
Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang penting adalah: Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Muntah oleh karena nyeri viseral. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus).
Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit, menghindarkan pergerakan, di perut terasa nyeri.
Pemeriksaan yang lain Lokalisasi.
Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh perut, tetapi paling terasa nyeri pada daerah titik Mc. Burney. Jika sudah infiltrat, lokal infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit, dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney.
Test rektal.
Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang.
Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
Pemeriksaan radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma.
Penatalaksanaan
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan. analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Apendektomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.
Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi, yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif.
Konsep Asuhan Keperawatan Sebelum operasi dilakukan klien perlu dipersiapkan secara fisik maupun psikis, disamping itu juga klien perlu diberikan pengetahuan tentang peristiwa yang akan dialami setelah dioperasi dan diberikan latihan-latihan fisik (pernafasan dalam, gerakan kaki dan duduk) untuk digunakan dalam periode post operatif. Hal ini penting oleh karena banyak klien merasa cemas atau khawatir bila akan dioperasi dan juga terhadap penerimaan anastesi.
Untuk melengkapi hal tersebut, maka perawat di dalam melakukan asuhan keperawatan harus menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
Pengkajian
Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.
Identitas penanggung Riwayat kesehatan sekarang.
Keluhan utama Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.
Sifat keluhan Nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai Biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas. Riwayat kesehatan masa lalu Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang Pemeriksaan fisik Keadaan umum Klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
Berat badan Sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.
Sirkulasi : Klien mungkin takikardia. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal. Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang. Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
Nyeri/kenyamanan Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
Keamanan Demam, biasanya rendah.
Data psikologis Klien nampak gelisah.
Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Ada perasaan takut. Penampilan yang tidak tenang.
Diagnosa keperawatan
Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan muntah.
Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh.
Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal.
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun.
Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan
Intervensi keperawatan .
Rencana tujuan dan intervensi disesuaikan dengan diagnosis dan prioritas masalah keperawatan.
1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya rasa mual dan muntah, ditandai dengan : Kadang-kadang diare. Distensi abdomen. Tegang. Nafsu makan berkurang. Ada rasa mual dan muntah.
Tujuan : Mempertahankan keseimbangan volume cairan dengan
Kriteria Hasil :
Klien tidak diare.
Nafsu makan baik.
Klien tidak mual dan muntah.
Intervensi :
1) Monitor tanda-tanda vital.
Rasional : Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia.
2) Monitor intake dan out put dan konsentrasi urine.
Rasional : Menurunnya out put dan konsentrasi urine akan meningkatkan kepekaan/endapan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan.
3) Beri cairan sedikit demi sedikit tapi sering.
Rasional : Untuk meminimalkan hilangnya cairan.
2. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh, ditandai dengan : Suhu tubuh di atas normal. Frekuensi pernapasan meningkat. Distensi abdomen. Nyeri tekan daerah titik Mc. Burney Leuco > 10.000/mm3.
Tujuan : Tidak akan terjadi infeksi
Kriteria Hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi post operatif (tidak lagi panas,
kemerahan).
Intervensi :
1) Bersihkan lapangan operasi dari beberapa organisme yang mungkin ada melalui prinsip-prinsip pencukuran.
Rasional : Pengukuran dengan arah yang berlawanan tumbuhnya rambut akan mencapai ke dasar rambut, sehingga benar-benar bersih dapat terhindar dari pertumbuhan mikro organisme.
2) Beri obat pencahar sehari sebelum operasi dan dengan melakukan klisma.
Rasional : Obat pencahar dapat merangsang peristaltic usus sehingga bab dapat lancar. Sedangkan klisma dapat merangsang peristaltic yang lebih tinggi, sehingga dapat mengakibatkan ruptura apendiks.
3) Anjurkan klien mandi dengan sempurna.
Rasional : Kulit yang bersih mempunyai arti yang besar terhadap timbulnya mikro organisme.
4) HE tentang pentingnya kebersihan diri klien.
Rasional : Dengan pemahaman klien, klien dapat bekerja sama dalam pelaksaan tindakan.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal, ditandai dengan : Pernapasan tachipnea. Sirkulasi tachicardia. Sakit di daerah epigastrum menjalar ke daerah Mc. Burney Gelisah. Klien mengeluh rasa sakit pada perut bagian kanan bawah.
Tujuan : Rasa nyeri akan teratasi
Kriteria Hasil : Pernapasan normal. Sirkulasi normal.
Intervensi :
1) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri.
Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indiaktor secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya.
2) Anjurkan pernapasan dalam.
Rasional : Pernapasan yang dalam dapat menghirup O2 secara adekuat sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.
3) Lakukan gate control.
Rasional : Dengan gate control saraf yang berdiameter besar merangsang saraf yang berdiameter kecil sehingga rangsangan nyeri tidak diteruskan ke hypothalamus.
4) Beri analgetik.
Rasional : Sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri (apabila sudah mengetahui gejala pasti).
4. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. Gelisah. Wajah murung. Klien sering menanyakan tentang penyakitnya. Klien mengeluh rasa sakit. Klien mengeluh sulit tidur
Tujuan : Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan
pengobatannya.
Intervensi :
1) Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi.
Rasional : Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta dapat melaksanakan setelah operasi, sehingga dapat mengembalikan fungsi-fungsi optimal alat-alat tubuh.
2) Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi periode istirahat setelah operasi.
Rasional : Mencegah luka baring dan dapat mempercepat penyembuhan.
3) Disukusikan kebersihan insisi yang meliputi pergantian verband, pembatasan mandi, dan penyembuhan latihan.
Rasional : Mengerti dan mau bekerja sama melalui teraupeutik dapat mempercepat proses penyembuhan.
5. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. Nafsu makan menurun Berat badan menurun Porsi makan tidak dihabiskan Ada rasa mual muntah
Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri
Intervensi :
1) Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien
Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi.
2) Perkirakan / hitung pemasukan kalori, jaga komentar tentang nafsu makan sampai minimal
Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan.
3) Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet.
4) Beri makan sedikit tapi sering
Rasional : Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan.
5) Anjurkan kebersihan oral sebelum makan
Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan
6) Tawarkan minum saat makan bila toleran.
Rasional : Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas.
7) Konsul tetang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang menyebabkan distres.
Rasional : Melibatkan pasien dalam perencanaan, memampukan pasien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan.
Memberi makanan yang bervariasi
Rasional : Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien.
6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan. Kuku nampak kotor Kulit kepala kotor Klien nampak kotor
Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri
Intervensi :
1) Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien.
Rasional : Agar badan menjadi segar, melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan.
2) Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih.
Rasional : Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman
3) Berikan HE pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri.
Rasional : Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal hygiene.
4) Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya.
Rasional : Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan
5) Bimbing keluarga / istri klien memandikan
Rasional : Agar keterampilan dapat diterapkan
6) Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien.
Rasional : Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi.
Implementasi
Pelaksanaan adalah pemberian asuhan keperawatan secara nyata berupa serangkaian kegiatan sistimatis berdasarkan perencanaan untuk mencapai hasil yang optimal. Pada tahap ini perawat menggunakan segala kemampuan yang dimiliki dalam melaksanakan tindakan keperawatan terhadap klien baik secara umum maupun secara khusus pada klien post apendektomi. Pada pelaksanaan ini perawat melakukan fungsinya secara independen, interdependen dan dependen.
Pada fungsi independen adalah mencakup dari semua kegiatan yang diprakarsai oleh perawat itu sendiri sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya Pada fungsi interdependen adalah dimana fungsi yang dilakukan dengan bekerja sama dengan profesi/disiplin ilmu yang lain dalam keperawatan maupun pelayanan kesehatan, sedangkan fungsi dependen adalah fungsi yang dilaksanakan oleh perawat berdasarkan atas pesan orang lain.
Evaluasi.
Untuk mengetahui pencapaian tujuan dalam asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada klien perlu dilakukan evaluasi dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut :
1) Apakah klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh?.
2) Apakah klien dapat terhidar dari bahaya infeksi?.
3) Apakah rasa nyeri akan dapat teratasi?.
4) Apakah klien sudah mendapat informasi tentang perawatan dan pengobatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marylinn E. (2000), Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien,
Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.
Henderson, M.A. (1992), Ilmu Bedah Perawat, Yayasan Mesentha Medica, Jakarta.
Schwartz, Seymour, (2000), Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC. Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C, (2001), Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah, Volume 2,
READ MORE - Asuhan Keperawatan Apendisitis

Asuhan Keperawatan Urtikaria

LANDASAN TEORI
URTIKARIA

A.DEFENISI
Urtikaria atau lebih dikenal dengan biduran adalah suatu gejala penyakit berupa gatal-gatal pada kulit disertai bercak-bercak menonjol (edema ) yang biasanya disebabkan oleh alergi.
Urtikaria merupakan gejala klinis untuk suatu kelompok kelainan yang di tandai dengan adanya pembentukan bilur – bilur pembengkakan kulit yang dapat hilang tanpa meninggalkan bekas yang terlihat. (robin graham, brown,2205)
Urtikaria yaitu keadaan yang ditandai dengan timbulnya urtika atau edema setempat yang menyebabkan penimbulan diatas permukaan kulit yang disertai rasa sangat gatal ( ramali, ahmad, 2009 )
B. EPIDEMILOGI
Urtikaria dapat terjadi pada semua ras. Kedua jenis kelamin dapat terkena, tapi lebih sering pada wanita usia pertengahan. Urtikaria kronik idiopatik terjadi dua kali lebih sering pada wanita dari pada laki-laki. Urtikaria akut lebih sering terjadi pada anak-anak, sedangkan urtikaria kronik lebih sering terjadi pada usia dewasa.
C. ETIOLOGI
Berdasarkan kasus-kasus yang ada, paling banyak urtikaria di sebabkan oleh alergi, baik alergi makanan, obat-obatan,dll.
-Jenis makan yang dapat menyebabkan alergi misalnya: telur, ikan, kerang, coklat, jenis kacang tertentu, tomat, tepung, terigu, daging, sapi, udang, dll
-Jenis obat-obatan yang menimbulkan alergi biasanya penisilin, aspirin, bromide, seru, vaksin, dan opium.
-Bahan-bahan protein yang masuk melalui hidung seperti serbuk kembang, jamur, debu dari bulu burung, debu rumah dan ketombe binatang.
-Pengaruh cuaca yang terlalu dingin atau panas, sinar matahari, tekanan atau air.
-Faktor psikologis pasien misalnya: Krisis emosi
D. ANATOMI DAN FISIOLOGIS KULIT
Kulit menutupi dan melindungi permukaan tubuh dan bersambung dengan selaput lender yang melapisi rongga-rongga dan lubang-lubang masuk. Kulit mempunyai banyak fungsi; didalamnya terdapat ujung saraf peraba,membanu mengatur suhu dan mengendalikan hilangnya air dari tubuh dan mempunyai sedikit kemampuan exkretori, sekretori dan abrorpsi.
Kulit dibagi menjadi dua lapisan:
1. Epidermis atau kutikula
2. Dermis atau korium
Epidermis tersusun atas epitalium berlapis dan terdiri atas sejumlah lapisan sel yang disusun atas dua lapis yang jelas tampak; selapis lapisan tanduk dan selapis zona germinalis.
Lapisan Epidermal. Lapisan tanduk terletak paling luar dan tersusun atas tiga lapisan sel yang membentuk epidermis.
Stratum korneum. Selnya tipis, datar, seperti sisik dan terus-menerus dilepaskan.
Stratum lusidum. Selnya mempunyai batas tegas tetapi tidak ada intinya.
Stratum granulosum. Selapis sel yang jelas tampak berisi inti dan juga granulosum.
Zona Garminalis terletak dibawah lapisan tanduk dan terdiri atas dua lapis sel apitel yang berbentuk tegas .
Sel beduri, yaitu sel dengan fibrin halus yang menyambung sel yang satu dengan yang lainnya di dalam lapisan ini, sehingga setiap sel seakan-akan berduri.
Sel basal, yang terus menerus memproduksi sel epidermis baru.
Korium atau dermis tersusun atas jaringan fibrus dan jaringan ikat yang elastic. Dermis tersusun papil-papil kecil yang terisi ranting-ranting pembuluh darah kapiler.
Ujung akhir saraf sensoris, yaitu putting teraba, terletak didalam dermis.Kelenjar keringat ada yang disebut pori dan kelenjar serumen.
Pelengkap kulit
Rambut, kuku, dan kelenjar sebaseus dianggap sebagai tambahan pada kulit.
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Timbulnya bintik-bintik merah atau lebih pucat pada kulit. Bintik-bintik merah ini dapat mengalami edema sehingga tampak seperti benjolan.
2. Sering disertai rasa gatal yang hebat dan suhu yang > panas pada sekitar benjolan tersebut.
3. Terjadi angiodema, dimana edema luas kedalam jaringan subkutan, terutama disekitar mata, bibir dan di dalam orofaring.
4. Adanya pembengkakan dapat menghawatirkan, kadang-kadang bisa menutupi mata secara keseluruhan dan mengganggu jalan udara untuk pernafasan.


F. BENTUK-BENTUK KLINIS URTIKARIA
a. URTUKARIA AKUT
Urtikaria akut hanya berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari. Yang sering terjadi penyebabnya adalah:
a. Adanya kontak dengan tumbuhan ( misalnya jelatang ), bulu binatang/makanan.
b. Akibat pencernaan makanan, terutama kacang-kacangan,kerangan-kerangan dan strouberi.
c. Akibat memakan obat misalnya aspirin dan penisilin.
b. URTIKARIA KRONIS
Biasanya berlangsung beberapa minggu,beberapa bulan, atau beberapa tahun. Pada bentuk urtikaria ini jarang didapatkan adanya factor penyebab tunggal.
c. URTIKARIA PIGMENTOSA
Yaitu suatu erupsi pada kulit berupa hiperpigmentasi yang berlangsung sementara, kadang-kadang disertai pembengkakan dan rasa gatal.
d. URTIKARIA SISTEMIK ( PRURIGO SISTEMIK )
Adalah suatu bentuk prurigo yang sering kali terjadi pada bayi kelainan khas berupa urtikaria popular yaitu urtikaria yang berbentuk popular-popular yang berwarna kemerahan.
Berdasarkan penyebabnya, urtikaria dapat disebabkan menjadi:
-Heat rash yaitu urtikaria yang disebabkan panas
-Urtikaria idiopatik yaitu urtikaria yang belum jelas penyebabnya atau sulit di deteksi
-Cold urtikaria adalah urtikaria yang disebabkan oleh ransangan dingin
-Pressure urtikaria yaitu urtikaria yang di sebabkan oleh alergi
-Aquagenic urtikaria yaitu urtikaria yang disebabkan sengatan sinar matahari
-Vaskulitik urtikaria
-Cholirgening urtikaria yaitu urtikaria yang disebabkan panas, latihan berat dan stress.
G.DIAGNOSIS
Diagnosis urtikaria ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis.anamnesis harus dilakukan dengan lengkap dan teliti serta lebih menekankan pada factor-factor etiologi yang dapat menimbulkan urtikaria.
H.DIAGNOSIS BANDING
Beberapa penyakit mempunyai lesi yang mirip dengan urtikaria sehingga perlu dibuat bulosa,herpes gestasiones,penyakit bula kronik pada anak.beberapa penyakit lain yang didiagnosis banding dengan urtikaria kronik adalah : dermatitis atopic,pemfigoid bulosa,dermatitis kontak alergi,mastocytosis,gigitan kutu busuk,eritema multiforme,gigitan serangga,scabies,dan urtikaria vasculitis.
I.KOMPIKASI
Lesi-lesi urtikaria bisa sembuh tanpa komplikasi.namun pasien dengan gatal yang hebat bias menyebabkan purpura dan excoriasi yang bias menjadi infeksi sekunder.penggunaan antihistamin bias menyebabkan scomnolens dan bibir kering.pasien dengan keadaan penyakit yang berat bias mempengaruhi kulitas hidup.
J.PENATALAKSANAAN
1. identifikasi dan pengobatan adalah menghindari factor resiko, ini yang paling penting dan hanya ini yang efektif untuk terapi jangka panjang.menghindari aspirin atau zat-zat aditif pada makanan ,diharapkan dapat memperbaiki kondisi sekitar 50% pasien dengan urtikaria kronik idiopatik.
2. Pengobatan local
• Kompres air es atau mandi air hangat dengan mencampurkan koloid aveno oatmeal yang bisa mengurangi gatal.
• Lotion anti pruritus atau emulsi dengan 0,25% menthol bias membantu dengan atau tanpa 1% fenol dalam lotion calamine.
3. Pengobatan sistemik
• Anti histamine dengan antgonis H1 adalah terapi pilihan
• Doxepin yaitu anti depresan trisklik dengan efek antagonis H1 dan H2
• Kombinasi antihistamin H1 dan H2 misalnya simetidin
• Cyproheptadin ,mungkin lebih efektif dari pada antihistamin
• kortikosteroid biasanya digunakan untuk mengontrol vascukitis urtikaria
• Profilaksis dengan steroid anabolic misalnya : danazol,stanozolol
• Hormon tyroid juga dilaporkan dapat meringankan urtikaria kronis dan angioderma
• Terapi antibiotic juga dilaporkan bisa pada pasien yang terinfeksi helicobacter pylory dengan urtikaria kronis.
K.PROGNOSIS
Penyakit ini bisa remisi spontan pada 33,2% pasien.setelah 1 tahun 50% pasien menjadi bebas gejala. Tetapi penyakit ini dilaporkan bisa mencapai sampai 20 tahun pada 20% pasien 4,5,11.





ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN URTIKARIA
Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan.hal ini disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu ,teknik dan keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/ keluarga yang terdiri dari 5 tahap : pengkajian ,diagnose keperawatan,rencana tindakan,implementasi dan evaluasi.
A.PENGKAJIAN
Dalam melakukan pengkajian pada klien cystitis menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh yaitu :
1.pengumpulan data
I. Biodata
• Identitas klien : nama,umur,jenis kelamin,agama,pendidikan,pekerjaan,tanggal
MRS,tanggal pengkajian,diagnostic medic.
• Identitas penanggung : nama,umur,jenis kelamin,agama,pendidikan,pekerjaan,hubung
An dengan klien.

II. Riwayat kesehatan
• Keluhan utama
Merupakan gambaran yang dirasakan klien sehingga dating ke RS untuk menerima pertolongan dan mendapatkan perawatan serta pengobatan.
• Riwayat kesehatan sekarang
Menguraikan keluhan secara PQRST. Misalnya : pasien (biasanya wanita tua) mungkin melaporkan penurunan kemampuan untuk mengangkat , pasien menyatakan nyeri beberapa lama ,letak nyeri,dll.
• Riwayat kesehatan masa lalu
Merupakan riwayat kesehatan yang berkaitan dengan penyakit sebelumnya dan riwayat pemeriksaan klien.apakah alergi terhadap zat makanan,cuaca,obat-obatan,dsb.
Misalnya pada kasus cystitis yang perlu dikaji yaitu : riwayat menderita infeksi saluran kemih sebelumnya,riwayat pernah menderita batu ginjal ,riwayat penyakit DM, dan jantung.
• Riwayat kesehata keluarga
Memuat riwayat adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama adakah anggota keluarga yang menderita penyakit akut / kronis serta melampirkan genogram klien.

III. Pemeriksaan fisik,meliputi :
1) Keadaan umum
• Keadaan fisik : sedang,ringan,berat
• Tanda-tanda vital : tekanan darah,nadi,suhu,pernafasan
• Tingkat kesadaran : composmentis,apatis,spoor,somnolent
2) Kulit
• Inspeksi : warna kulit dan kebersihan kulit
• Palpasi : suhu,tekstur,kelembaban,apakah ada nyeri tekan, apakah ada mas
sa / benjolan atau apakah ada odema.
3) Kepala
• Inspeksi : apakah penyebaran rambut merata ,apakah ada luka di kepala,apa
Kah kebersihan kulit terjaga.
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,atau apakah ada massa / benjolan
4) Wajah
• Inspeksi : apakah ada luka di wajah,apakah wajah tampak pucat atau tidak.
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa / benjolan.
5) Mata
• Inspeksi : apakah sclera ikterus atau tidak, apakah konjungtiva pucat atau tid
ak ,apakah palpebra oedema atau tidak.
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa / benjolan.
6) Hidung
• Inspeksi : apakah ada polip,perdarahan,secret,dan luka
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa / benjolan
7) Telinga
• Inspeksi : apakah ada peradangan atau serumen
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan atau apakah ada massa / benjolan
8) Mulut
• Inspeksi : apakah bibir tampak kering atau sariawan
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan
9) Leher
• Inspeksi : apakah ada kelenjar thyroid dan kelenjar limfe
• Palpasi : apakah terjadi pembesaran kelenjar thyroid dan kelenjar limfe
10) ketiak
• Inspeksi : apakah tampak adanya pembesaran kelenjar getah bening
• Palpasi : apakah teraba adanya pembesaran getah bening
11) Dada dan pernapasan
• Inspeksi : bentuk dada normal/abnormal,apakah simetris kiri dan kanan
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa/benjolan
• Perkusi : apakah suara paru soror,redup,pekak,atau tympani
• Auskultasi : suara nafas apakah vesikuler atau broncovesikuler,apakah ada sua
ra tambahan,misalnya : roles,ronchi.
12) Jantung
• Inspeksi : untuk mengetahui denyut dinding toraks yaitu ictus cordis pada ve
ntrikel kiri ICS 5 linea clavikularis kiri
• Palpasi : untuk meraba dengan jari II,III,IV yang dirasakan pukulan/ kekuat
an getar dan dapat dihitung frekuensi jantung (HR) selama satu
menit penuh.
• Perkusi : untuk mengetahui batas-batas jantung
• Auskultasi : untuk mendengar bunyi jantung
13) Abdomen
• Inspeksi : apakah ada jaringan parut striase,apakah permukaan abdomen dat
ar ,pengembangan diafragma simetris kiri dan kanan
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,atau apakah ada massa/benjolan
• Perkusi : apakah ada sura tympani atau tidak
• Auskultasi : apakah ada suara bising usus atau tidak.apakah peristltik ususnya
normal atau tidak.
14) Genetalia dan anus
• Inspeksi : apakah ada benjolan atau tidak
• Palapsi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa/benjolan
15) Ekstermitas
a. Ekstermitas atas
• Inspeksi : bagaimana pergerakan tangan,dan kekuatan otot
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,massa/benjolan
• Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot,melakukan pemeriksaan
tonus kekuatan otot,dan tes keseimbangan.
• Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps
• Sensorik : apakah klien dapat membedakan nyeri, sentuhan,temperature,ra
sa ,gerak dan tekanan.
b. Ekstermitas bawah
• Inspeksi : bagaimana pergerakan kaki,dan kekuatan otot
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,massa/benjolan
• Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot,melakukan pemeriksaan
tonus kekuatan otot,dan tes keseimbangan.
• Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps
• Sensorik : apakah klien dapat membedakan nyeri, sentuhan,temperature,ra
sa ,gerak dan tekanan.

IV. Pola kebiasaan sehari-hari
Menurut GORDON ada 11pola kegiatan sehari-hari yang meliputi : kebutuhan nutrisi,kebutuhan cairan,kebutuhan eliminasi,istirahat,personal hygiene,persepsi kognitif,persepsi dan konsep diri,aktivitas dan latihan,kebutuhan seksual,mekanisme koping,kepercayan / keyakinan.adapun data dasar pengkajian pada pasien dengan urtikaria adalah :
- Aktivitas atau istirahat
o Gejala : malaise,perubahan pola tidur
- Sirkulasi
o Tanda : TD normal/sedikit dari jangkauan normal (selama curah jantung
Tetap meningkat) kulit hangat kering,bercahaya,pucat,lembab.
- Eliminasi
o Gejala : -
- Makanan atau cairan
o Gejala :Jarang ditemukan pada pasien anoreksia
o Tanda :Jarang ditemukan pasien dengan keadaan penurunan BB. Penurunan lemak subkutan/massa otot (malnutrisi). Pengeluaran haluaran konsentrasi urine. Perkembangan kearah oliguri, auria.
- Neurosensori
o Gejala :Sakit kepala, pusing, pinsang
o Tanda :Gelisah, ketakutan
- Nyeri/ ketidaknyamanan
o Gejala :Kejang obdominal, lokalisasi rasa sakit, pruritas umum (urtikaria).
- Pernafasan
o Tanda :Takipnea dengan penurunan kedalaman pernafasan, suhu: umumnya meningkat (37,95 C atau lebih), tetapi kadang subnormal.
- Seksualitas
o Gejala :Pruritas perineal
o Tanda :Maserasi vulva, pengeringan vagina purulen.
- Penyuluhan / pembelajaran
o Gejala :Masalah kesehatan kronis/melemahkan, misalnya: hati, ginjal, DM, kecanduan alcohol, penggunaan anti biotic (baru saja atau jangka panjang).

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman : pruritus berhubungan dengan vasodilatasi subkutan
2. Gangguan citra diri tubuh berhubungan dngan angioedema
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur berhubungan dengan gatal
4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya
5. Resiko kerusakan jaringan kulit berhubungan dengan vasodilatasi subkutan

III. PERENCANAAN KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman pruriatas berhubungan dengan vosodilatasi subkutan

2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan angiodema
Tujuan :Agar dapat mengekspresikan perasaan dan masalah yang menyebabkan penurunan citra tubuh
Intervensi :
1. Kaji makna perubahan pada pasien
Rasional :Episode traumatic mengakibatkan perubahan tiba-tiba, tidak diantisipasi, membuat perasaan kehilangan pada perubahan actual/yang dirasakan.ini memerlukan dukungan perbaikan optimal
2. Bersikap realistis dan positif selama pengobatan.Pada penyuluhan kesehatan dan menyusun tujuan dalam keterbatasan
Rasional :Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara pasien dengan perawat.
3. Dorong interaksi keluarga dan dengan tim rehabilitas
Rasional :Mempertahankan/membuka garis komunikasi dan memberikan dukungan
4. Berikan kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Rasional :meringankan beban psikologis klien.
5. HE kepada keluarga pasien tentang bagaimana mereka dapat membantu pasien.
Rasional :Keluarga dapat meningkatkan ventilasi perasaan dan memungkinkan respons yang lebih membantu pasien.

3. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan gatal.
Tujuan :Pasien menunjukkan kebutuhan istirahat tidur terpenuhi.
Intervensi:
1. Kaji kebiasaan tidur klien sebelum dan selama sakit
Rasional :Untuk mengetahui kebiasaan tidur klien serta gangguan yang dirasakan, dan membantu dalam menentukan intervensi selanjutnya.
2. Beri posisi yang nyaman.
Rasional :Posisi yang nyaman dapat meningkatkan relaksasi sehingga menstimulasi untuk tidur
3 Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
Rasional :Lingkungan yang tenang dapat memberikan rasa nyaman sehingga mempermudah klien tidur.
4 .Anjurkan pasien untuk mengkomsumsi makanan/minuman tinggi protein sebelum tidur.
Rasional :Pencernaan protein menghasilkan triptopan yang mempunyai efek sedative
5. Menghindari minuman yang mengandung kafein,pada malam hari.
Rasional :Memudahkan pasien untuk dapat tidur.

4. Anxietas berhubunga dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya.
Tujuan :Pasien akan menunjukkan kecemasan berkurang/ teratasi dengan criteria:
a.Pasien dapat menerima keadaanya
b.Ekspresi wajah rileks
c.Pasien tampak tenang
Intervensi :
1. Observasi tingkat kecemasan pasien.
Rasional :mengetahui sejauh mana kekhwatiran / kecemasan pasien dan pemahaman pasien mengenai penyakitnya.
2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya
Rasional :Mengurangi beban perasaan pasien.
3. Bina hubungan yang baik antara perawat dengan klien.
Rasional :Meningkatkan hubungan terapeutik antara perawat dengan pasien.
4. Beri doronga spiritual.
Rasional :Membantu pasien lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan menerima keadaanya denga ikhlas.
5. HE tentang penyakit yang diderita pasien.
Rasional :Dengan informasi denga baik dapat menurunkan kecemasan pasien.
5 . Resiko kerusakan jaringan kulit berhubungan dengan vasodilatasi subkutan.
Tujuan :Tidak terjadi kerusakan jaringan kulit.
Intervensi :
1. Kaji dan catat keadaan dan warna kulit
Rasional :Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan derajat kerusakan kulit.
2. Pijat kulit dengan lembut.
Rasional :Memperbaiki sirkulasi darah
3. Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk.
Rasional :Menghindari kerusakan kulit
4. Kompres atau mandi air hangat dengan mencampurkan koloit Aveeno oatmeal.
Rasional :Dapat mengurangi gatal yang timbul.
READ MORE - Asuhan Keperawatan Urtikaria

Graha DBS n Th3 Hack3r

AdsenseCamp