Asuhan Keperawatan

Dunia Askep dan Tips Trik Komputer

Welcome to My Blog

Selamat Datang di Blog Ini.
Blog ini masih dalam masa perkembangan dan menuju kesempurnaan, agar blog ini lebih berkembang mohon Kritik dan Sarannya.

Blogger sangat berterima kasih karena ANDA mau mengunjungi Blog ini.

"Blog ini tidak akan berkembang tanpa dukungan dan kerja sama dari ANDA."

Terima kasih!!


Mau Jadi Publisher (Penerbit) atau Advertiser (Pemasang) IKLAN??? Klik disini..!!!


Mau berbisnis?? Klik link-link di bawah ini!!

Mau Dapat Uang Gratis, Download caranya disini...

AdsenseCamp

Graha DBS

Anda Pengunjung Ke :

Buku Tamu Blogger

Dimohon ke pada para pengunjung Blog ini untuk mengisi "BUKU TAMU BLOGGER" yang ada di sebelah kanan agar blogger tahu bahwa Anda bukan robot yang mengunjungi blog ini..

Selasa, 27 Juli 2010

Askep Trauma Thoraks / Dada

Askep Trauma Thoraks / Dada

A. PENGERTIAN

Trauma adalah cedera/rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2002).

Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2001).

Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001).

Trauma dada adalah trauma tajam atau tembus thoraks yang dapat menyebabkan tamponade jantung, perdarahan, pneumothoraks, hematothoraks, hematompneumothoraks (FKUI, 1995).


Untuk lengkapnya download disini..
READ MORE - Askep Trauma Thoraks / Dada

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPOSPADIA

Konsep Dasar

A. Pengertian
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana uretra terbuka dipermukaan bawah penis, skrotum atau peritanium . hipospadia sendiri berasal dari dua kata yaitu ‘hypo’ yang berarti ‘dibawah’ dan ‘spadon’ yang berarti keratin yang panjang.

B. Etiologi
Penyebabanya sebenernya sangat multifactor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa factor yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :

Selengkapnya download disini..
READ MORE - ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPOSPADIA

Anatomi dan Fisiologi Jantung

SISTEM KARDIOVASKULER

- ANATOMI & FISIOLOGI JANTUNG

Jantung letaknya didalam rongga dada diantara paru-paru.
Lapisan jantung terdiri dari:
Pericardium > lapisan sebelah dalam,disebut pericardium visceral
> lapisan sebelah luar,disebut pericardium parietal.
Diantaranya terdapat sedikit cairan pelumas yang berfungsi untuk mengurangi gesekan oleh gerakan.
Bagian depan melekat pada tulang dada,bagian belakang melekat pada tulang belakang & bagian bawah melekat pada diagframa.

Untuk lebih lengkapnya download disini...
READ MORE - Anatomi dan Fisiologi Jantung

Minggu, 18 Juli 2010

Keperawatan Profesional

A. Pengertian Keperawatan Profesional
Perawat professional mencakup perawat ahli madya, perawat ahli, ners, ners special, dan ners konsultan.
Praktik keperawatan professional adalah tindakan mandiri perawat professional melalui kerjasama bersifat kolaboratif dengan pasien dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tangggungjawab.
Sedangkan sesuai dengan penjelasan di depan, Pengembangan Manajemen Kinerja (PMK) perawat adalah suatu upaya peningkatan kemampuan manajerial dan kinerja perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan di sarana/ institusi pelayanan kesehatan untuk mencapai pelayanan kesehatan yang bermutu

B. Tujuan Standar Keperawatan Profesional di Puskesmas

Tujuan umum

Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di sarana/institusi pelayanan kesehatan (puskesmas).

Tujuan Khusus :
a. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan perawat;
b.Meningkatnya kepatuhan penggunaan standar dalam melakukan pelayanan keperawatan;
c. Meningkatnya kemampuan manajerial pelayanan keperawatan;
d. Meningkatnya pelaksanaan monitoring kinerja perawat berdasarkan indikator kinerja yang disepakati;
e. Meningkatnya kegiatan diskusi refleksi kasus (DRK) keperawatan;
f. Meningkatnya mutu asuhan keperawatan; dan
g. Meningkatnya kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan.

C. Prinsip-prinsip Keperawatan Profesional di Puskesmas
Prinsip-prinsip yang diterapkan dalam standar keperawatan di puskesmas mencakup:
1. Komitmen
Komitmen dapat diartikan sebagai janji atau tanggung jawab . Hal ini dapat diartikan bahwa setiap orang/pihak/institusi yang berkomitmen terhadap Standar Keperawatan Profesional di Puskesmas berjanji untuk melaksanakan Standar Keperawatan Profesional di Puskesmas tersebut. Adanya komitmen ini sangat diperlukan mulai dari tingkat pimpinan/pengambil keputusan di pemerintahan kabupaten/kota, dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit, puskesmas, IBI, PPNI dan institusi lain yang terkait dengan pelaksanaan Standar Keperawatan Profesional di Puskesmas. Komitmen ini merupakan salah satu komponen yang dapat menjaminkesinambungan kegiatan.
2. Kualitas
Pelaksanaan STANDAR KEPERAWATAN PROFESIONAL DI PUSKESMAS diarahkan untuk meningkatkan kualitas SDM keperawatan dan kebidanan meliputi kinerja dan hasil pelayanannya. Dengan meningkatnya kualitas tenaga perawat diharapkan akan tercermin dalam kinerja sehari-hari di tempat kerja. Peningkatan kinerja perawat akan mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan menjadi lebih baik sehingga akan memperbaiki citra pelayanan keperawatan di sarana pelayanan kesehatan
3. Kerja Tim
Standar Keperawatan Profesional di Puskesmas tidak hanya ditujukan kepada perawat tetapi juga mendorong adanya kerjasama kelompok (team work) antar tenaga kesehatan (perawat, bidan, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya). Kerjasama tim merupakan salah satu penentu keberhasilan pelayanan kesehatan.
4. Pembelajaran Berkelanjutan
Di dalam penerapan Standar Keperawatan Profesional di Puskesmas memberi kondisi terjadinya pembelajaran berkelanjutan yang emungkinkan setiap individu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga dapat mengikuti perkembangan IPTEK.
5. Efektif dan Efisien
Dengan menerapkan Standar Keperawatan Profesional di Puskesmas maka perawat dapat bekerja secara efektif dan efisien karena mereka bekerja sesuai dengan standard dan uraian tugas serta diikuti dengan monitoring dan evaluasi yang dapat meminimalkan kesalahan-kesalahan dalam pekerjaan. Adanya kejelasan tugas memungkinkan setiap orang bekerja pada area yang telah ditetapkan.

D. Hubungan PMK dan Standar Keperawatan di Puskesmas

Puskesmas telah dilengkapi dengan perangkat manajemen yang terdiri dari perencanaan, penggerakan pelaksanaan serta pengawasan, pengendalian dan pertanggungjawaban. Kepala Puskesmas bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan penanggungjawab program dalam pelaksanaan PMK dan mengintegrasikan PMK dalam manajemen Puskesmas untuk menjaga kesinambungannya.

a. Tujuan:
1) Memastikan pelayanan sesuai dengan standar/pedoman;
2) Mengetahui hambtan dan permasalahan yang dihadapi oleh petugas;
3) Melakukan upaya perbaikan dan peningkatan;
b. Teknik pemantauan dilaksanakan melalui:
1) Pengamatan langsung;
2) Pengamatan dokumen;
3) Diskusi kelompok terarah;
4) Survey pengguna jasa;
c. Waktu pelaksanaan Pemantauan dan penilaian dilaksanakan secara berkala, sekurangnya sekali dalam sebulan.
Untuk menjaga kelangsungan dan kualitas penerapan PMK di rumah sakit dan puskesmas pasca pelatihan PMK, perlu dilaksanakan pemantapan di masing-masing institusi baik oleh pelaksana keperawatan/kebidanan itu sendiri maup un oleh pimpinan institusi dan pimpinan wilayah. Pemantapan PMK di rumah sakit dan puskesmas meliputi pelaksanaan PMK pasca pelatihan, supervisi, dan monitoring dan evaluasi.
a. Pelaksanaan komponen PMK oleh perawat dan bidan
Setelah melalui proses pelatihan PMK baik di kelas dan di lapangan (rumah sakit/puskesmas) dilanjutkan dengan penerapan nyata di institusi masing-masing. Perawat dan bidan diharapkan untuk selalu menggunakan standar/SOP dalam melaksanakan tugas disamping melaksanakan uraian tugas yang telah dimiliki oleh masing-masing personel. Perawat dan bidan kordinator melaksanakan fungsi monitoring dan evaluasi terhadap pelayanan keperawatan dan kebidanan berdasar pada indikator kinerja yang telah dimiliki dengan menggunakan instrumen penilaian inerja. Diskusi refleksi kasus dilaksanakan secara rutin setiap satu bulan sekali untuk membahas permasalahan dan temuan aktual serta keberhasilan yang telah dicapai. Dokumentasi hasil pelayanan keperawatan dan kebidanan perlu ditingkatkan pelaksanaannya sehingga dapat dimiliki pertanggung jawaban legal dan sebagai bahan untuk perencanaan pelayanan keperawatan dan kebidanan.
b. Supervisi dan bimbingan
Untuk menjaga sustainabilitas PMK dalam penerapannya di rumah sakit dan puskesmas diperlukan supervisi yang terarah dan terencana. Supervisi ini dilaksanakan secara berjenjang dan berlanjut di setiap tingkatan. Kordinator perawat dan bidan melaksanakan supervisi klinik kepada perawat dan bidan pelaksana dalam melaksanakan pelayanan kesehatan. Melalui supervisi ini diharapkan terjadi peningkatan kinerja setelah dilakukan bimbingan klinis terhadap adanya penyimpanganpenyimpangan penerapan SOP maupun uraian tugas. Bimbingan manajerial dilaksanakan oleh pimpinan keperawatan atau pimpinan institusi terhadap proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan keperawatan dan kebidanan. Bimbingan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota perlu dilaksanankan secara terencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan proses kinerja administrative penerapan PMK perawat dan bidan
c. Monitoring dan evaluasi
Monitoring dan evaluasi PMK ditujukan untuk menilai sejauh mana pencapaian indikator kinerja pelayanan keperawatan dan kebidanan. Untuk ditingkat operasional, monitoring evaluasi ilaksanakan oleh kordinator perawat dan bidan terhadap perawat dan bidan pelaksana dengan mengunakan instrumen monitoring evaluasi serta perlu direncanakan secara matang. Pimpinan keperawatan/kebidanan yang lebih tingi atau pimpinan tertinggi institusi melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap jajaran manajerial di bawahnya untuk memantau danme nilai sejauh mana indikator administratif dan klinis telah tercapai
READ MORE - Keperawatan Profesional

Senin, 12 Juli 2010

Askep Empiema

ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN EMPIEMA

A. DEFINISI
Empiema adalah pengumpulan cairan purulen (pus) dalam kapitas pleural.pada awalnya,cairan pleura sedikit,dengan hitung leukosit rendah,tetapi seringkali cairan ini berkembang ke tahap fibrofurulen dan akhirnya ke tahap dimana cairan tersebut membungkus paru dalam membran eksudatif yang tebal.kondisi ini dapat terjadi jika abses paru meluas sampai kavitas pleural.Meskipun emfiema bukan merupakan komplikasi lazim infeksi paru,emfiema dapat terjadi jika pengobatannya terlambat.

B. PATOFISIOLOGI
Akibat invasi basil piogenik kepleura, maka timbullah peradangan akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat serous. Dengan banyaknya sel polimorphonucleus (PMN) baik yang hidup maupun yang mati dan meningkatnya kadar protein, maka cairan menjadi keruh dan kental. Adanya endapan-endapan fibrin akan membentuk kantung-kantung yang melokalisasi nanah tersebut. Apabila nanah menembus bronchus maka timbul fistel bronkopleura, atau apabila menembus dinding toraks dan keluar melalui kulit maka disebut “empiema nessensiatis”. Stadium ini masih disebut empiema akut yang lama kelamaan akan menjadi kronis
C. MANIFESTASI KLINIS

Dibagi menjadi dua stadium yaitu :
1. Emfiema Akut

Terjadi sekunder akibat infeksi tempat lain,bukan primer dari pleura.Pada permulaan,gejala-gejalanya mirip dengan pneumonia,yaitu panas tinggi dan nyeri dada pleuritik.Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura.Bila stadium ini dibiarkan samapii beberapa minggu maka akan timbul toksemia,anemia,dan clubbing fingger.Jika nanah tidak segera dikeluarkan akan timbul fistal bronkopleura.Adanya fistal ditandai dengan bentuk yang makin produktif, bercampur nanah dan darah masif,serta kadang-kadang bisa timbul sufokasi (mati lemas ).
Pada kasus empiema karena pneumotoraks pneumonia,timbulnya cairan adalah setelah keadaan membaik. Sebaliknya streptococcus pneumonia,emfiema timbul waktu masih akut.Pneumonia karena baksil gram negatif seperti E.coli atau Bakteriodis seringkali menimbulkan emfiema.


2. Empiema Kronis
Batas yang tegas antara empiema akut dan kronis sukar ditentukan. Disebut kronis jika empiema berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Penderita mengeluh badannya terasa lemas, kesehatan makin menurun, pucat, clubbing fingers, dada datar, dan adanya tanda-tanda cairan pleura. Bila terjadi fibrotoraks, trachea, dan jantung akan tertarik kesisi yang sakit.
Tanda utama empiema adalah:
a. Demam dan keluar keringat malam
b. Nyeri pleura
c. Dispnea
d. Anoreksia dan penurunan berat badan
e. Pada auskultasi dada ditemukan penurunan suara nafas
f. Pada perkusi dada ditemukan suara flatness
g. Pada palpasi ditemukan penurunan premitus.
Jika pasien telah mendapat terapi antimikroba, manifestasi klinis dapat berubah. Diagnosis ditegakkan dengan dasar basil rontgen dada dan thoracentesis.

D. PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan adalah untuk mengalirkan cairan dalam kavitas pleura dan untuk mencapai ekspansi paru sempurna. Cairan dialirkan dan direisepkan antobiotik yang sesuai berdasarkan pada organisme penyebab .

Prinsip pengobatan empiema adalah:
1. Pengosongan Nanah
Prinsip ini seperti umumnya yang dilakukan pada abses, untuk mencegah efek toksisnya.
a. Closed drainage- tube toracostorrrywater sealed drainage dengan indikasi:
1) Nanah sangat kental dan susah diaspirasi
2) Nanah terus terbentuk setelah dua minggu
3) Terjadinya piopneumotoraks
Upaya WSD juga dapat dibantu dengan pengisapan negative sebesar 10-20 cmH2O. jika setelah 3-4 minggu tidak ada kemajuan, harus dirempuh cara lainseperti pada empiema kronis.
b. Drainase terbuka (open drainage)
Karena menggunakan kateter karet yang besar, maka perlu disertai juga dengan reseksi tulang iga. Open drainage ini dikerjakan pada empiema kronis, hal ini bisa terjadi akibat pengobatan yang terlambat atau adekuat misalnya aspirasi yang terlambat atau tidak adekuat sehingga harus sering mengganti atau membersihkan drain.

2. Antibiotic
Mengingat kematian sebagai akibat utama dari sepsis, maka antibiotic memegang peranan penting. Antibiotic harus segera diberikan begitu diagnosis ditegakkandan dosisnya harus tepat. Pemilihan antibiotic didasarkan pada hasil pengecatan gram dan apusan nanah. Pengobatan selanjutnya tergantung pada hasil kultur dan sensitivitasnya. Antibiotic dapat diberikan secara sistematik atau topical. Biasanya diberikan penicillin.
3. Penutupan rongga empiema
Pada empiema menahun sering kali rongga empiema tidak menutup karena penebalan dan kekakuan pleura. Pada keadaan demikian dilakukan pembedahan (dekortikasi) atau torakoplasti.
a. Dekortikasi
Tindakan ini termasuk operasi besar, dengan indikasi:
1) Drain tidak berjalan dengan baik karena banyak kantung-kantung
2) Letak empiema sukar dicapai oleh drain
3) Empiema totalis yang mengalami organisasi pada pleura visceralis,
b. Torakoplasti
Jika empiema tidak mau sembuh karena adanya fistel bronkopleura atau tidak mungkin dilakukan dekortikasi. Pada pembedahan ini, segmen dari tulang iga dipotong subperiosteal, dengan demikian dinding toraks jatuh kedalam rongga pleura karena tekanan atmosfer.
4. Pengobatan kausal
Misalnya subrenik abses dengan drainase subdiafragmatika, terapi sfesifik pada amoebiasis, dan sebagainya.

5. Pengobatan tambahan
Perbaiki keadaan umum lalu fisioterapi untuk membebaskan jalan nafas.

E. PROGNOSIS
Dipengaruhi oleh umur serta penyakit yang melatar belakangkinya. Angka kematian meningkat pada usia tua, penyakit asal yang berat, dan pengobatan yang terlambat.

F. INTERVENSI KEPERAWATAN
Kesembuhan empiema adalah proses yang panjang. Perawat menolong pasien untuk mengatasi kondisi dan menginstruksikan latihan bernafas ( pernafasan dengan bibir dirapatkan dan diafragmatik ), yang membantu untuk memulihkan fungsi pernafasan normal. Perawat juga memberikan asuhan sfesifik terhadap metoda drainase cairan pleura, seperti aspirasi jarum, drainase dada tertutup/reseksi iga dan drainase.
READ MORE - Askep Empiema

Askep Hernia Nukleus Pulposus

Bab. I
Konsep Dasar
I. DEFINISI
Kata hernia pada hakekatnya berarati penonjolan suatu kantung poriteneum, suatu organ atau lemak pra-peritoneum melalui cacat konginental atau akuisita dalam parietes muskuloaponeurotik dinding abdomen, yang normalnya tak dapat dilewati2 . Sebagian besar hernia timbul dalam regio ingualis dengan sekitar 50 persen dari ini merupakan hernia inguinalis indirek dan 25 persen sebagai inguinalis direk5.
Bagian – bagian dari hernia yaitu:
a) Cincin hernia
b) Kantung hernia (vaginalis )
c) Isi hernia
Henia diberi nama berdasarkan letak hernia tersebut, umpamanya diafragma, inginal, umbilikal, femoral. Berdasarkan terjadinya, hernia di bagi menjadi atas hernia bawaan dan hernia dapatan ( hernia akuisita ). Berdasarkan sifatnya, hernia dapat disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar masuk (usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau di dorong masuk ke perut ) dan jika isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut, maka disebut hernia iropenibel (ini disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia .
Secara garis besar , pembagian hernia dibagi menjadi 3, yaitu(1,2,4) :
1. Hernia Inguinalis1
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anamoli kongenital atau karena sebab yang didapat. Hernia inguinalis timbul paling sering pada pria dan lebih sering pada sisi kanan dibandingkan pada sisi kiri nanti. Pada orang yang sehat, ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur m.oblikus internus obdominis yang menutup annulus inguinalis internus ketika bekontraksi, dan adanya fasia transversa yang kuat menutupi trigonum Hasselbach yang umunya hamper tidak berotot. Faktor paling kausal yaitu adanya proses vaginalis (kantong hernia ) yang terbuka, peninggian tekanan didalam rongg perut, dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Hernia inguinalis di bagi lagi, yaitu :


a. Hernia inguinalis medialis
Hernia inguinalis direk ini hampir selalu di sebabkan oleh faktor peninggian tekanan intraabdomen kronik dan kelemahan otot dinding di trigonum Hasselbech. Oleh karena itu, hernia ini umumnya terjadi bilateral, khususnya pada lelaki tua.
b. Hernia inguinalis lateralis
Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut di lateral pembuluh epigastrika inferior. Disebut indirek karena keluar melalui dua buah pintu dan saluran, yaitu anulus dan kanalis inguinalis. Pada pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk lonjong .
2. Hernia fermolis
Hernia femoralis umumnya di jumpai pada perempuan tua. Keluhan biasanya muncul berupa benjolan di lipat paha yang muncul terutama pada waktu melakukan kegiatan yang menaikkan tekanan intraabdomen. Pintu masuk hernia femoralis adalah annulus femoralis. Selanjutnya, isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan v.femoralis sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha .
3. Hernia lain – lain
Yang termasuk dalam hernia ini yaitu hernia yang jarang terjadi :
• Hernia umbilikalis
Hernia umbilikalis merupakan hernia kongenital pada umbilikus yang hanya tertutup peritoneum dan kulit . Hernia ini terdapat pada kira – kira 20 persen pada bayi dan lebih tinggi lagi pada bayi prematur .
• Hernia para-umbilikalis
Hernia para-umbilikalis merupakan hernia melalui suatu celah di garis tengah di tepi kranial umbilikalus, jarang spontan terjadi di tepi kaudalnya .
• Hernia epigastrika
Hernia epigastrika adalah hernia yang keluar melalui defek di linea alba antara umbilikus dan prosesus xifoideus. Isi terdiri atas penonjolan jaringan lemak preperitoneal dengan atau tanpa kantong peritoneum.
• Hernia ventralis
Hernia ventralis adalah nama umum untuk semua hernia di dinding perut bagian anterolateral seperti hernia sikatriks. Hernia sikatriks merupakan penonjolan peritoneum melalui bekas luka operasi yang baru maupun yang lama.
• Hernia spieghel
Hernia spieghel ialah hernia interstisial dengan atau tanpa isinya mealui fasia Spieghel.

• Hernia obturatoria
Hernia obturatoria ialah hernia melalui foramen obturatorium.
• Hernia perinealis
Hernia perinealis merupakan tonjolan hernia pada perineum melalui defek dasar panggul yang dapat terjadi secara primer pada perempuan multipara, atau skunder setelah operasi melalui perineum seperti prostatektomia atau reseksi rectum secara abdominoperineal.
• Hernia pantalon
Hernia pantolan merupakan kombinasi hernia inguinalis dan medialis pada satu sisi.

II. ETIOLOGI
Hernia kebanyakan di derita oleh orang – orang yang berusia lanjut, karena pada usia – usia rentan tersebut dinding otot yang telah melemah dan mengendur untuk menjaga agar organ tubuh tetap pada tempatnya sehingga mempercepat proses terjadinya hernia. Kegiatan fisik yang berlebihan juga diduga dapat menyebabkan hernia cepat berkembang seperti mengangkat barang – barang yang terlalu berat. Hal – hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya hernia yaitu batuk kronik, penyakit paru kronik, obesitas, dan bawaan lahir ( kongenital ).
Kewaspadaan akan bahaya hernia sangat penting untuk dapat dilakukan pencegahan sedini mungkin agar pengangan hernia dapat mdah di atasi.

III. PATOFISIOLOGI
a) Peninggian tekanan intraabdomen akan mendorong lemak perperitoneal ke dalam kanalis femoralis1.
b) Faktor penyebab terjadinya hernia yaitu kelahiran multipara, obesitas, dan degenerasi jaringan ikat karena usia lanjut.
c) Defek pada dinding abdomen dapat kongential atau didapat dan dibatasi oleh peritoneum1.
Isi usus terjebak di dalam kantung menyebabkan inkreasi (ketidakmampuan untuk mengurangi isi ) dan kemungkinan strangulasi (terhambatnya aliran darah ke daerah inkarerasi )1.

IV. MANIFESTASI KLINIS
Umumnya pasien mengatakan turun berok, burut, atau kelingsir, atau mengatakan adanya benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bias mengecil atau menghiklang pada waktu tidur, dan bila menangis, mengejan, atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali.
Keadaan umum pasin biasanya baik. Bila benjolan tidak Nampak, pasien dapat disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri. Bila ada hernia maka akan tampak benjolan bila memang sudah tampak benjolan, harus diperiksa apakah benjolan tersebut dapat dimasukksn kembali. Pasien diminta berbaring, bernapas dengan mulut untuk mengurangi tekanan intraabdominal, lalu skrotum diangkat perlahan-lahan. Diagnosis pasti Hernia pada umumnya sudah dapt ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang teliti.
Keadaan cincin hernia juga perlu diperiksa. Melalui skrotum jari telunjuk dimasukkan keatas lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti fasikulus spermatikus sampai ke annulus inguinalis internus. Pada keadaan normal jari tangan tidak dapat masuk. Pasien diminta mengejan dan merasakan apakah ada massa yang menyentuh jari tangan. Bila massa tersebut menyentuh ujung jari maka itu adalah Herhia Inguinalis Lateralis, sedangkan bila menyentuh sisi jari maka diagnosisnya adalah Hernia Inguinalis Medialis.

V. DIAGNOSIS BANDING
a) Diagnosis banding hernia femoralis :
1. Limfadenitis yang disertai tanda radang lokal umum dengan suimber infeksi di tungkai bawah, perineum, anus, atau kulit tubuh kaudal.
2. Variks tunggal di muara v.safena magna dengan atau tanpa varises pada tungkai.
b) Hernia inguinalis dapat ditegakkan diagnosis berdasarkan atas besar benjolan yang dapat direposisi, atau jika tidak dapat direposisi atas dasar tidak adanya pembatasan jelas di sebelah kranial dan adanya hubungan ke kranial melalui anulus eksternus.
c) Hernia obturatoria didiagnosis dengan adanya keluhan nyeri seperti di tusuk – tusuk dan parastesia di daerah lutut.
d) Hernia pantalon didiagnosis dengan anamnesis dan pemeriksaan ( tampak dan teraba benjolan di perineum yang mudah keluar masuk dan jarang mengalami inkarserasi ).
e) Hernia spieghel didiagnosis dengan ditemukannya benjolan di sebelah atas titik McBurney kanan atau kiri, pada lateral m.rektus abdominis .
f) Pada hernia inguinalis diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Benjolan akan membesar jika penderita membungkuk, batuk, mengedan atau mengangkat beban berat.

VI. KOMPLIKASI
1. Terjadi pelengketan antara isi hernia dengan dinding kantong Hernia sehingga isi Hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Keadaan ini disebut Hernia Inguinalis Ireponibilis. Menyebabkan keadaan Ireponibilis adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding Hernia dan isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih sering menyebabkan ireponibilis dari pada usus halus.
2. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat makin banyaknya usus yang masuk. Keadaan ini menyebabkan gangguan aliran isi usus di ikuti dengan gangguan vascular (proses strangulasi). Keadaan ini disebut Hernia Inguinalis Strangulata.
Pada keadaan strangulate akan timbul gejala illeus, yaitu perut kembung, muntah, dan optipasi. Pada Strangulasi nyeri yang timbul lebih hebat san kontinyu, daerah benjolan menjadi merah, dan pasien menjadi gelisah.


VII. PENANGANAN HERNIA
Penanganan terhadap hernia dibagi menjadi dua cara, yaitu :
a) Operasi(1,6)
Dilakukan operasi yaitu untuk mengembalikan (reposisi) terhadap benjolan hernia tersebut. Dua prinsip yang digunakan dalam operasi hernia, yaitu herniotomi dengan memotung kantung hernia lalu mengikatnya dan herniorafi dengan perbaikkan defek dengan pemasangan jaring melalui operasi terbuka (laparoskopik).
b) Terapi hernia 2
1. Terapi umum
a. Terapi konservatif berupa penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakain korset pada hernia ventralis. Sementara itu pada hernia inguinalis pemakaian korset tidak dianjurkan karena selain tidak dapat menyembuhkan, alat ini dapat juga melemahkan otot dinding perut.
b. Setiap hernia femoralis memerlukan tindakan operasi, kecuali kalau ada kelainan lokal atau umum yang merupakan kontradiksi operasi.
c. Setiap hernia femoralis memerlukan tindakan operasi, kecuali kalau ada kelainan lokal atau umum yang merupakan kontradiksi operasi.
d. Pada hernia ventralis, pengelolaan konservatif menggunakan alat penyangga luar korset elastik khusus untuk sementara atau lebih lama bila ada kontradiksi pembedahan.

2. Hernioplastik endoskopik(3,2)
Hernioplastik endoskopik merupakan pendekatan dengan penderita berbaring dalam posisi Trendelenburg 40 derajat. Digunakan tiga trokar, yang pertama di garis tengah dekat umbilicus, dan dua lainnya di lateral.Keuntungan metode ini yaitu mobiditas ringan, penderita kurang merasa nyeri, dan keadaan umum kurang terganggu dibandingkan dengan operasi dari luar.


Bab.2
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1. Anamnesa
Keluhan utama, riwayat perawatan sekarang, Riwayat kesehatan dahulu, Riwayat kesehatan keluarga
2. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian terhadap masalah pasien terdiri dari awitan, lokasi dan penyebaran nyeri, parestesia, keterbatasan gerak dan keterbatasan fungsi leher, bahu dan ekstremitas atas. Pengkajian pada daerah spinal servikal meliputi palpasi yang bertujuan untuk mengkaji tonus otot dan kekakuannya.
3. Pemeriksaan Penunjang
2. Diagnosa Keperawatan yang Muncul

1. Nyeri b.d Kompresi saraf, spasme otot
2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus
3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual
4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis dan tindakan pengobatan.

3. Intervensi

1. Nyeri b.d kompresi saraf, spasme otot
a. Kaji keluhan nyeri, lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus / yang memperberat. Tetapkan skala 0 – 10
b. Pertahankan tirah baring, posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi, posisi telentang
c. Gunakan logroll (papan) selama melakukan perubahan posisi
d. Bantu pemasangan brace / korset
e. Batasi aktifitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan
f. Ajarkan teknik relaksasi
g. Kolaborasi : analgetik, traksi, fisioterapi
2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus
a. Berikan / bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
b. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif
c. Berikan perawatan kulit dengan baik, masase titik yang tertekan setelah rehap perubahan posisi. Periksa keadaan kulit dibawah brace dengan periode waktu tertentu.
d. Catat respon emosi / perilaku pada immobilisasi
e. Demonstrasikan penggunaan alat penolong seperti tongkat.
f. Kolaborasi : analgetik
3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual
a. Kaji tingkat ansietas pasien
b. Berikan informasi yang akurat
c. Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah seperti kemungkinan paralisis, pengaruh terhadap fungsi seksual, perubahan peran dan tanggung jawab.
d. Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhannya.
e. Libatkan keluarga
4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis
a. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis dan pembatasan kegiatan
b. Berikan informasi mengenai mekanika tubuh sendiri untuk berdiri, mengangkat dan menggunakan sepatu penyokong
c. Diskusikan mengenai pengobatan dan efek sampingnya.
d. Anjurkan untuk menggunakan papan / matras yang kuat, bantal kecil yang agak datar dibawah leher, tidur miring dengan lutut difleksikan, hindari posisi telungkup.
e. Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama
f. Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu diperhatikan seperti nyeri tusuk, kehilangan sensasi / kemampuan untuk berjalan
4. Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik.
Macam :
a. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral
b. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks
c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.
d. Disektomi dengan peleburan.
2. Immobilisasi
Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal, traksi, atau brace.
3. Traksi
Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban.
4. Meredakan Nyeri
Kompres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid.


DAFTAR PUSTAKA

1. Grace , Pierce A., Borley , Neil R . At a Glance Ilmu Bedah .ed. 3.2006.Jakarta : PT. Erlangga.
2. R . Sjamsuhidajat , Wim de Jong, Buku – Ajar Ilmu Bedah, eds. 1, 2005, Jakarta: EGC
3. Subhan,2002, Laporan Asuhan Keperawatan Klien Dengan Typhos Abdominalis, Departeman Pendidikan Nasional FKUA Prodi Ilmu Kep. Surabaya
4.http://www.medikaholistik.com/2033/2004/11/28/medika.html?xmodule=document_detail&xid=96,last update 7 Mei 2005, (download 28 November 2007)
5. http://medicastore.com /articles/isiArt.asp?artiID=30,18 November 2007, (download 28 November 2007)
6. Arif. M Mansjoer. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Penerbit Media Ascalapius Fakultas Bedah UI. Jakarta
READ MORE - Askep Hernia Nukleus Pulposus

Askep Anak dengan Thypoid

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN THYPOID
A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1996 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.
2. Etiologi
Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
3. Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
4. Manifestasi Klinik
Masa tunas typhoid 10 – 14 hari
a. Minggu I
pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut.
b. Minggu II
pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.
5. Komplikasi
a. Komplikasi intestinal
1) Perdarahan usus
2) Perporasi usus
3) Ilius paralitik
b. Komplikasi extra intestinal
1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis, tromboplebitis.
2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.
3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.
6. Penatalaksanaan
a. Perawatan.
1) Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.
2) Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.
b. Diet.
1) Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
2) Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
3) Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
4. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.
c. Obat-obatan.
1) Klorampenikol
2) Tiampenikol
3) Kotrimoxazol
4) Amoxilin dan ampicillin
7. Pencegahan
Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu mentah (yang belum dipsteurisasi), hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas
8. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :
a. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
b. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
c. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :
1) Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.
2) Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit.
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.
3) Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.
4) Pengobatan dengan obat anti mikroba.
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.
d. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).
2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).
3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.
Faktor – faktor yang mempengaruhi uji widal :
a. Faktor yang berhubungan dengan klien :
1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.
3. Penyakit – penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.
4. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.
5. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.
6. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.
7. Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil titer yang rendah.
8. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa lalu.
b. Faktor-faktor Teknis
1. Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies yang lain.
2. Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji widal.
3. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik dari suspensi dari strain lain.
9. Tumbuh kembang pada anak usia 6 – 12 tahun
Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.
Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.
a. Motorik kasar
1) Loncat tali
2) Badminton
3) Memukul
4) motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan keleluasaan.
b. Motorik halus
1) Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan
2) Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.
c. Kognitif
1) Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi
2) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah
3) Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal
4) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang
d. Bahasa
1) Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak
2) Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata depan
3) Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal
4) Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan
10. Dampak hospitalisasi
Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.
Penyebab anak stress meliputi ;
a. Psikososial
Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran
b. Fisiologis
Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri
c. Lingkungan asing
Kebiasaan sehari-hari berubah
d. Pemberian obat kimia
Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)
a. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya
b. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri
c. Selalu ingin tahu alasan tindakan
d. Berusaha independen dan produktif
Reaksi orang tua
a. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan anak
b. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya peraturan Rumah sakit
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Faktor Presipitasi dan Predisposisi
Faktor presipitasi dari demam typhoid adalah disebabkan oleh makanan yang tercemar oleh salmonella typhoid dan salmonella paratyphoid A, B dan C yang ditularkan melalui makanan, jari tangan, lalat dan feses, serta muntah diperberat bila klien makan tidak teratur. Faktor predisposisinya adalah minum air mentah, makan makanan yang tidak bersih dan pedas, tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dari wc dan menyiapkan makanan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul pada klien typhoid adalah :
a. Resti ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d hipertermi dan muntah.
b. Resti gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
c. Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi.
d. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik.
e. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat.
3. Perencanaan
Berdasarkan diagnosa keperawatan secara teoritis, maka rumusan perencanaan keperawatan pada klien dengan typhoid, adalah sebagai berikut :
Diagnosa. 1
Resti gangguan ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hipertermia dan muntah.
Tujuan
Ketidak seimbangan volume cairan tidak terjadi
Kriteria hasil
Membran mukosa bibir lembab, tanda-tanda vital (TD, S, N dan RR) dalam batas normal, tanda-tanda dehidrasi tidak ada
Intervensi
Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti mukosa bibir kering, turgor kulit tidak elastis dan peningkatan suhu tubuh, pantau intake dan output cairan dalam 24 jam, ukur BB tiap hari pada waktu dan jam yang sama, catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah nyeri dan distorsi lambung. Anjurkan klien minum banyak kira-kira 2000-2500 cc per hari, kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, K, Na, Cl) dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan tambahan melalui parenteral sesuai indikasi.
Diagnosa. 2
Resiko tinggi pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
Tujuan
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi
Kriteria hasil
Nafsu makan bertambah, menunjukkan berat badan stabil/ideal, nilai bising usus/peristaltik usus normal (6-12 kali per menit) nilai laboratorium normal, konjungtiva dan membran mukosa bibir tidak pucat.
Intervensi
Kaji pola nutrisi klien, kaji makan yang di sukai dan tidak disukai klien, anjurkan tirah baring/pembatasan aktivitas selama fase akut, timbang berat badan tiap hari. Anjurkan klien makan sedikit tapi sering, catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah, nyeri dan distensi lambung, kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet, kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium seperti Hb, Ht dan Albumin dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antiemetik seperti (ranitidine).
Diagnosa 3
Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi
Tujuan
Hipertermi teratasi
Kriteria hasil
Suhu, nadi dan pernafasan dalam batas normal bebas dari kedinginan dan tidak terjadi komplikasi yang berhubungan dengan masalah typhoid.
Intervensi
Observasi suhu tubuh klien, anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas klien, beri kompres dengan air dingin (air biasa) pada daerah axila, lipat paha, temporal bila terjadi panas, anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti piretik.
Diagnosa 4
Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan
Kebutuhan sehari-hari terpenuhi
Kriteria hasil
Mampu melakukan aktivitas, bergerak dan menunjukkan peningkatan kekuatan otot.
Intervensi
Berikan lingkungan tenang dengan membatasi pengunjung, bantu kebutuhan sehari-hari klien seperti mandi, BAB dan BAK, bantu klien mobilisasi secara bertahap, dekatkan barang-barang yang selalu di butuhkan ke meja klien, dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin sesuai indikasi.
Diagnosa 5
Resti infeksi sekunder berhubungan dengan tindakan invasive
Tujuan
Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil
Bebas dari eritema, bengkak, tanda-tanda infeksi dan bebas dari sekresi purulen/drainase serta febris.
Intervensi
Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR dan RR). Observasi kelancaran tetesan infus, monitor tanda-tanda infeksi dan antiseptik sesuai dengan kondisi balutan infus, dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti biotik sesuai indikasi.
Diagnosa 6
Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat
Tujuan
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil
Menunjukkan pemahaman tentang penyakitnya, melalui perubahan gaya hidup dan ikut serta dalam pengobatan.
Intervensinya
Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan keluarga klien tentang penyakit anaknya, Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan klien, beri kesempatan keluaga untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti, beri reinforcement positif jika klien menjawab dengan tepat, pilih berbagai strategi belajar seperti teknik ceramah, tanya jawab dan demonstrasi dan tanyakan apa yang tidak di ketahui klien, libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien
4. Evaluasi
Berdasarkan implementasi yang di lakukan, maka evaluasi yang di harapkan untuk klien dengan gangguan sistem pencernaan typhoid adalah : tanda-tanda vital stabil, kebutuhan cairan terpenuhi, kebutuhan nutrisi terpenuhi, tidak terjadi hipertermia, klien dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri, infeksi tidak terjadi dan keluaga klien mengerti tentang penyakitnya.
READ MORE - Askep Anak dengan Thypoid

Rabu, 30 Juni 2010

Implementasi Keperawatan

BAB I
PENDAHULUAN

Dokumentasi proses keperawatan merupakan sarana komunikasi antar perawat dan tim kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan. Dokumentasi keperawatan sangat penting bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnose, intervensi, implementasi dan evaluasi. Pada pendokumentasian implementasi keperawatan terdapat berbagai tahap yaitu persiapan, intervensi, dan tahap dokumentasi.
Implementasi adalah pelaksanaan rencana tindakan yang telah ditentukan atau direncanakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (IYER ET.Al,1996). Tahap implementasi dimulai setelah rencana tindakan disusun untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.
Tujuan dari implementasi adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan,yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. Perencanan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Selama tahap pelaksanaan, perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien. Semua tindakan keperawatan dicatat kedalam format yang telah ditetapkan oleh institusi.


BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Implementasi adalah pelaksanaan rencana tindakan yang telah ditentukan atau direncanakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (IYER ET.Al,1996). Tahap implementasi dimulai setelah rencana tindakan disusun untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.
Tujuan dari implementasi adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan,yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik, jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan.selama tahap pelaksanaan, perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien, semua tindakan keperawatan dicatat kedalam format yang telah ditetapkan oleh institusi.

B. TAHAP IMPLEMENTASI
Ada tiga tahap dalam tindakan keperawatan, yaitu :
1. Tahap persiapan
Tahap awal tindakan keperawatan menuntut perawat mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, dalam tindakan.persiapan tersebut meliputi kegiatan-kegiatan seperti berikut :
Review tindakan keperawatan yang diidentifikasi pada tahap perencanaan.
Menganalisa pengetahuan dan ketrampilan keperawatan yang diperlukan.
Mengetahui komplikasi dari tindakan keperawatan yang mungkin timbul.
Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan.
Mempersiapkan lingkungan yang konduktif sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan.
Mengidentifikasi aspek hukum dan etik terhadap resiko dari potensial tindakan.

2. Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini tenaga perawatan harus mengutamakan keselamatan, keamanan, kenyamanan, oleh karena itu harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
Sikap yang meyakinkan.
Peka terhadap respon pasien dan efek samping dari tindakan yang dilakukan.
Sistematika kerja yang tepat.
Pertimbangkan hukum dan etik.
Bertanggung jawab dan bertanggung gugat.
Mencatat semua tindakan keperawatan yang telah diberikan.
Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan:
Independen
Tindakan keperawatan independen adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Tipe dari aktifitas yang dilaksanakan perawat secara independen didefinisikan berdasarkan diagnosa keperawatan. Tindakan tersebut merupakan suatu respon dimana perawat mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan keperawatan secara pasti berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, seperti :
• mengkaji tanda-tanda vital,
• mengajarkan tehnik relaksasi,
• mengatur posisi.
Tipe tindakan independen keperawatan dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu :
• Tindakan diagnostik
Tindakan yang ditujukan pada pengkajian dalam merumuskan suatu diagnose keperawatan. Tindakan tersebut meliputi:
a) Wawancara dengan klien untuk mendapatkan data subjektif, keluhan klien, persepsi klien tentang penyakitnya, riwayat penyakit klien.
b) Observasi dan pemeriksaan fisik, tindakan untuk mendapatkan data-data objektif yang meliputi : observasi kesadaran dan tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik berdasarkan pendekatan sIstem atau head to toe melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
• Tindakan terapeutik
Tindakan yang ditujukan untuk mengurangi ,mencegah, dan mengatasi masalah klien.
• Tindakan edukatif
Tindakan ini ditujukan untuk merubah perilaku klien melalui promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan kepada klien serta keluarga.
• Tindakan merujuk
Tindakan ini lebih ditekankan pada kemampuan perawat dalam mengambil suatu keputusan klinik tentang keadaan klien dan kemampuan untuk melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lainnya.
Dependen
Tindakan dependen adalah tindakan yang tergantung dari protokol dan order. Tindakan dependen berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis. Tindakan tersebut menandakan suatu cara dimana tindakan medis dilaksanakan, misalnya:
• Memasang infuse.
• Mengambil spesimen sesuai pesanan dokter.
Interdependen
Tindakan interdependen adalah tindakan keperawatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan tim kesehatan lainnya untuk mengatasi masalah klien, misalnya dengan ahli gizi, fisioterapi, dan lain-lain.
3. Tahap dokumentasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.
Ada dua tipe sistem pencatatan yang digunakan pada pendokumentasian asuhan keperawatan yaitu :
Sources Oriented Record
• Berorientasi pada sumber pembuatan catatan sesuai kegunaan dan kepentingan Rumah Sakit.
• Semua tim kesehatan membuat catatan sendiri-sendiri.
• Bentuk format.
Umum:
a) Format penerimaan pasien.
b) Format instruksi/order dokter.
c) Format riwayat penyakit.
d) Format catatan keperawatan.
e) Format grafik suhu dan nadi.
f) Format periksaan laboratorium.
Khusus:
a) Formulir konsultasi atau rujukan.
b) Riwayat social dan identitas pasien.
c) Format operasi, pemeriksaan, dsb.
Problem Oriented Record
• Mulanya ditemukan oleh dr. Lawrence weed tahun 1968.
• Terdiri dari 4 bagian yaitu:
a) Data dasar.
b) Daftar masalah.
c) Rencana keperawatan.
d) Catatan perkembangan keperawatan.

C. KOMPONEN-KOMPONEN PENDOKUMENTASIAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1. Nomor diagnose
Mulailah mencatat dokumentasi keperawatan dengan mencantumkan nomor diagnose keperawatan yang akan ditindaki.
2. Waktu pelaksanaan
Tulis dengan jelas waktu pemberian tindakan tersebut yang meliputi jam, hari, dan tanggal pelaksanan tindakan.
3. Tindakan yang dilakukan
Catat semua jenis-jenis tindakan yang telah dilakukan dalam pemberian asuhan keperawatan.
4. Hasil
Catat hasil dari tindakan yang telah diberikan atau respon klien terhadap tindakan tersebut.
5. Paraf dan nama pemberi tindakan
Tulis nama terang dari pemberi tindakan disertai dengan paraf atau tanda tangan.
READ MORE - Implementasi Keperawatan

Pengkajian Keperawatan

Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis yang dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi pasien baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual dapat ditentukan. Tahap ini mecakup tiga kegiatan yaitu pengumpulan data, analisis data dan penentuan masalah kesehatan serta keperawatan.
Cara pengumpulan data
1. Wawancara/anamnesis
wawancara/anamnesis adalah komunikasi timbal balik berbentuk tanya jawab antara perawat dengan pasien atau keluarga pasien tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan pasien. Dalam hal ini perawat membina hubungan baik dengan pasien sebelum memulai wawancara. Wawancara dilakukan dengan penuh keramahan, keterbukaan, menggunakan bahasa yang sederhana dan kenyamanan pasien terjamin. Semua hasil wawancara dicatat dalam format proses keperawatan.
2. Pengamatan
pengamatan pasien dilakukan baik terhadap fisik, prilaku, dan sikap dalam rangka menegakkan diagnosis keperawatan. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan panca indera. Semakin banyak panca indera yang terlibat maka hasil pengamatan akan semakin baik. Hasil pengamatan ini dicatat dalam format proses keperawatan.
3. Pemeriksaan fisik
pemeriksaan fisika dalah upaya menegakan diagnosis keperawatan dengan cara sebagai berikut:
• inspeksi, yakni melihat bagian tubuh pasien yang sakit
• palpasi, yaitu suatu pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara meraba bagian tubuh yang sakit
• auskultasi, yaitu suatu pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarakan bunyi bagian tubuh tertentu dan biasanya menggunakan stetoskop, misalnya mendengar denyut jantung, bising usus, dan suara paru
• Perkusi, suatu pemeriksaan yang dilakukan dengan cara mengetukkan jari telunjuk/kepalan tangan/alat/hammer pada tangan yang lain diatas bagian tubuh yang diperiksa.
4. Analisa data
Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berfikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan. Langkah-langkah dalam menganalisis data sebagai berikut:
5. Pengelompokan data:

    1. Data fisiologis/biologis
    • riwayat kesehatan dan penyakit
    • masalah kesehatan saat ini
    • masalah gangguan fungsi sehari-hari
    • masalah resiko tinggi
    • pengaruh perkembangan terhadap kehidupan
    2. Data psikologis
   • prilaku
   • pola emosional
   • konsep mdiri
   • gambaran diri
   • penampilan intelektual
   • tingkat pendidikan
   • daya ingat
   3. Data sosial
   • status ekonomi
   • kegiatan rekreasi
   • bahasa dan komunikasi
   • pengaruh kebudayaan
   • sumber-sunber masyarakat
   • faktor resiko lingkungan
   • hubungan sosial
   • hubungan dengan keluarga
   • pekerjaan
   4. data spiritual
   • nilai-nilai/norma
   • kepercayaan
   • keyakinan
   • moral

6. Tabulasi data
Data yang telah diperoleh kemudian ditabulasi sehingga mudah dibandingkan dengan standar, diinterpretasi, dan ditentukan alternatif permasalahannya.
7. Perumusan masalah
Dari analisis data yang telah dilakukan, dapat dirumuskan beberapa masalah kesehatan. Masalah kesehatan tersebut ada yang diintervensi dengan asuhan keperawatan (masalah keperawatan) tetapi ada juga yang tidak dan lebih memerlukan tindakan medis. Selanjutnya disusun diagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas masalah. prioritas masalah ditentukan berdasarkan kriteria penting dan segera. Penting mencakup kegawatan yang apabila tidak diatasi akan menimbulkan komplikasi, misalnya turgor kulit yang jelek pada kasus diare. Segera mencakup waktu, misalnya pada pasien stroke yang tidak sadar maka tindakan harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih parah atau bahkan kematian. Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hirarki kebutuhan menurut maslow yaitu:
• keadaan yang mengancam kehidupan
• keadaan yang mengancam kesehatan
• persepsi tentang kesehatan dan keperawatan
Pedoman untuk pengambilan riwayat pasien
a. Mendengar dengan seksama
Jadilah pendengar yang baik : anda perlu mendengarkan dengan sekasama apa yang dikatakan seseorang. Dengarkan seluruh ide dan pikiran tidak hanya fakta-fakta yeng terlihat saja.
b. Mendengar aktif
Gunakan keterampilan mendengar aktif, diam dan menerima untuk memberikan waktu yang cukup bagi pasien untuk berespon: berikan perhatian anda secara penuh pada proses wawancara dan jangan melakukan interupsi. Simpanlah komentar anda sampai pembicara selesai bicara
c. Objektivitas
Berusahalah seobjektif mungkin: mengidentifikasi hanya kontribusi pasien/atau orang terdekat terhadap riwayat pasien, dan tidak mencoba untuk menginterpretasikan data pada titik ini.
d. Rincian yang dapat diukur
mempertahankan sejumalah data yang dapat diukur: data yang dikumpulkan tentang pasien atau orang yang terdekat lainnya berisikan jumlah informasi yang luas. Beberapa darinya mungkin merupakan pengulangan. Tetapi dari beberapa data tersebut akan bernilai untuk mendapatkan informasi yang belum didapat sebelumnya.
e. Urutan informasi
Urutan adalah sangat penting: membuat dan menggunakan suatu bentuk yang membuahkan untuk menemukan informasi, mengeidentifikasi masalah dan memilih diagnosa keperawatan
f. Mencatat dengan jelas
Menulis yang dapat dibaca: keterampilan yang diperlukan ini meningkatkan komunikasi dan pemahaman tentang temuan-temuan anda, menurunkan terjadinya kesalahpahaman, menghemat waktu anda dan juga tenaga kesehatan lain yang mengandalkan catatan anda
g. Mencatat data sesuai waktunya
Tulis riwayat pasien sesegera mungkin seteleh memperoleh informasi
8. Validasi data
Validasi adalah proses yang dilakukan terus menerus selama fase pengumpulan data, bila data ditinjau dan dibandingkan. Anda meninjau data untuk memastikan bahwa apa yang telah dicatat adalah faktual dan untuk mengidentifikasi kesalahan dari kelalaian atau ketidak konsistenan yeng memerlukan penyelidikan tambahan. Validasi terutama penting bila data tersebut bertentangan, bila sumber data tidak andal atau bila bahaya yang serius pada pasien akibat beberapa ketidakakuratan. Ajukan pertanyaan tentang pasien atau yang lain untuk membuktikan kesan anda, validasi data dapat dilakuakn dengan menyampaikan asumsi anda dengan individu yang terlibat dan ajak mereka untuk memeriksa akurasi kesimpulan tersebut
Kriteria pengukuran untuk standar I ANA
• prioritas pengumpulan data dietentukan oleh kondisi atau kebutuhan klien dsaat itu.
• data yang berhubungan dikumpulkan dengan menggunakan tekhnik pengkajian yang sesuai.
• pengumpulan data melibatkan klien, orang terdekat, dan tenaga kesehatan yang lain bila diperlukan.
• proses pengumpulan data adalah sistematis dan berlangsung terus-menerus.
• data yang relevan didokumentasikan dalam bentuk yang dapat dilihat kembali.
Identifikasi Pola atau Divisi
Pola atau divisi merupakan gabungan beberapa data yang sama dan menunjukkan rangkaian tingkah laku selama periode waktu daripada kejadian-kejadian tersendiri. Pola kesehatan dan divisi diagnosa keperawatan membantu dalam mengatur data yang telah dikumpulkan. Data yang sama dikelompokkan dalam pola atau divisi.
Waktu yang digunakan dalam pengkajian
Pengkajian adalah tahap pertama dalam proses keperawatan, maka untuk mendapatkan data yang akurat maka sbelumnya harus melakukan kontrak waktu dengan klien. Waktu yang digunakan untuk mengkaji klien secara efektif maskimal dua jam. Hal ini mencegah kebosanan atau kecapean yang akan dialami klien selama pengkajian.
Wawancara dapat dilakukan setiap saat selama memberikan asuhan keperawatan pada pasien. Diawal pertemuan dengan klien, perawat terlebih dahulu mengidentifikasi diri sendiri kepada klien dan jelaskan dengan teliti tujuan pengumpulan data. Sewaktu melakukan pengkajian jangan mengintimasi klien dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Adalah penting untuk mrngetahui kapan saatnya mempercepat pertanyaan atau memperlambatnya, atau kapan saatnya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menantang. Jangan buru-buru saat wawancara dan tetap pertahankan kontak mata berdasarkan sistem keyakinan dan budaya.
Keadaan kesehatan/keparahan kondisi pasien membuat anda perlu menempatkan prioritas pada bagian spesifik pengkajian anda, khususnya mengenai pemeriksaan fisiknya. Selama pemeriksaan fisik dukungan emosional dan perawatan harus sesuaikan dengan indikasi.
READ MORE - Pengkajian Keperawatan

Diagnosa Keperawatan

BAB II
PEMBAHASAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN

A.Pengertian
Diagnose keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengindentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (a Carpenito, 2000).
Gordon (1976) mendefinisikan bahwa diagnose keperawatan adalah “masalah kesehatan actual dan potensial dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya,dia mampu dan mempunyai kewenangan untuk memberikan tindakan keperawatan”.kewenangan tersebut didasarkan pada standar praktek keperawatan dan etik keperawatan yang berlaku di Indonesia.
NANDA menyatakan bahwa diagnose keperaatan adalah “Keputusan klien tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan actual dan potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat”.semua diagnose keperawatan harus didukung oleh data, dimana manurut NANDA diartika sebagai “Definisi Karakteristik”.Definisi karakteristik tersebut dinamakan “Tanda & Gejala”.Tanda adalah suatu yang dapat diobservasi dan gejala adalah sesuatu yang dirasakan oleh klien.

B. Tujuan Diagnosa Keperawatan
Tujuan diagnose keperawatan untuk mengidentifikasi:
1. Masalah dimana adanya respon klien terhadap status kesehatan/penyakit.
2. Faktor-faktor yang menunjang atau menyebabkan suatu masalah (Etiologis)
3. Kemampuan klien untuk mencegah atau menyelesaikan masalah.
C. Langkah-langkah yang menentukan Diagnosa Keperawatan
1. Klasifikaasi dan Analisa data
Pengelompokan/klasifikasi data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdassarka criteria permasalahannya.Pengelompokan data dapat disusun berdasarkan “Pola fungsi kesehatan”.(Gordon, 1982).

“POLA FUNGSI KESEHATAN” : II pola (GORDON, 1982 cited in asih, 1994)
1. Persepsi kesehatan: pola piñata laksanaan kesehatan
2. Nutrisi: pola metabolism
3. Poola eliminasi
4. Aktivitas: pola latihan
5. Tidur: pola istirahat
6. Kognitif: pola perceptual
7. Persepsi diri: pola konsep diri
8. Peran: pola berhubungan
9. Seksualitas: pola reproduktif
10. Koping: pola toleransi stress
11. Nilai: pola keyakinan

2. Interpretasi/identifikasi masalah klien
a) Menetukan masalah kliien
b) Menetukan masalah klien yang pernah dialami
c) Penentuan keputusan
3. Validasi data
Begitu diagnose keperawatan disusun, maka harus dilakukan validasi.
Menurut price, ada beberapa indikasi pertanyaan tentang respon yang menentukan diagnose keperawatan:
a) Apakah data yang disampaikan, akurat dan berassal dari beberapa konsep keperawatan?
b) Apakah data yang signifikan menunjukkan gangguan pola?
c) Apakah ada data-data subjektif dan objektif mendukung terjadinya gangguan pola pada klien?
d) Apakah diagnose keperawatan yang ada berdasarkan pemahaman ilmu keperawatan dan keahlian kliinik?
e) Apakah diagnose keperawatan yang ada dapat dicegah, dikurangi dan diselesaikan dengan melakukan tindakan keperawatan yang independen?
D. Proses Diagnose terdiri dari 3 fase:
a. Proses data (analisa dan sintesa data)
b. Menentukan masalah kesehatan klien
c. Menyusun diagnose keperawatan (pernyataan)
E. Pernyataan Diagnose Keperawatan dibagi dalam 3 komponen:
1. Problem (P)
Menggambarkan perubahan apa yang terjadi pada status kesehatan klien.
Contoh: gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
2. Etiologi (E)
Adalah apa yang menjadi penyebab perubahan pada status klien.
Contoh: massalah gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
Etiologi yang mungkin terjadi:
Masukan bakteri dalam intestinal

Fungsi intestinal terganggu

Terjadi peningkatan peeristaltik usus

Sari makanan banyak terbuang
karena waktu transit absorpsi berkurang

Absorpsi tidak terjadi

Sari-sari makanan terbuang melalui feses

Kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi


3. Batasan karakteristik = sign (S)

Adalah diantaranya tanda dan gejala apa yang memberi bukti untuk pemilihan diagnose keperawatan. Batasan karaqkteristik diperoleh selama pengkajian member bukti bahwa ada masalah kesehatan, ada perubahan yang dirasakan oleh klien.
Gejala data subjektif (perubahan yang disampaikan klien / keluarga klien)
Tanda data objektif (perubahan yang diamati)

F. Diagnosa keperawatan dapat dibagii sesuai masalah kesehatan klien
1) Data actual
Yaitu diagnose keperawatan yang menjelaskan bahwa masalah nyata sudah ada saat pengkajian dilakulkan
2) Data potensial / resiko
Yaitu diagnose keperawatan yang meenjalaskan bahwa massalah nyata terjadi bila tindakan keperawatan tidak dilakukan, masalah belum ada tetapi penyebab sudah ada.
G. rumusan diagnose keperawatan menurut GORDON:
a) Actual problem (P) + etiologi (E) + sign (S)
b) Potensial problem (P) + etiologi (E)


Contoh:
Keluhan utama:
• Badan teraba panas
• Passion tampak lemah
• Muka tampak merah
• Bibir pecah-pecah
• Kurang nafsu makan
• Mual dan muntah
• Keringat banyak keluar
• Leukosit > 10.000/mm3
• TD = 100x/menit
• Pernapasan = 25x/menit
• Suhu tubuh = 390C
READ MORE - Diagnosa Keperawatan

Seputar Polio

BAB II
Pembahasan

A. Definisi

Poliomyelitis (polio) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan sebagian besar menyerang anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Polio tidak ada obatnya, pertahanan satu-satunya adalah imunisasi.Virus polio masuk ke tubuh melalui mulut, dari air atau makanan yang tercemar kotoran penderita polio. Juga disebabkan kurang terjaganya kebersihan diri dan lingkungan. Virus ini menyerang system syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan seumur hidup dalam waktu beberapa lama.

B. Gejala

Demam
Rasa lelah
Sakit kepala
Muntah-muntah
Rasa kaku pada leher
Rasa sakit pada kaki atau tangan

C. Pengobatan

Bagaimana mencegah dan membasmi polio dari muka bumi?

Satu-satunya cara mencegah dan membasmi polio adalah melalui pemberian vaksin polio, yaitu :
• Pemberian imunisasi polio lengkap kepada bayi (usia kurang dari 12 bulan) melalui program imunisasi rutin, atau
• Pemberian imunisasi polio kepada bayi dan balita (usia 0 – 59 bulan) melalui imunisasi massal, yang disebut PIN (Pekan Imunisasi Nasional)

Apakah PIN itu?

PIN (Pekan Imunisasi Nasional) adalah hari-hari yang dicanangkan secara nasional untuk memberikan imunisasi polio dengan 2 (dua) tetes vaksin polio kepada semua bayi dan balita (usia 0 – 59 bulan). Adalah sangat penting bagi para orang tua untuk membawa setiap bayi dan balita ke pos PIN terdekat untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan perlindungan terhadap polio.

Apakah Vaksin Polio Aman?

Vaksin polio sangatlah aman dan efektif bagi anak-anak, bahkan yang sedang sakit. Pastikan imunisasi polio diberikan kepada anak walaupun mereka sedang sakit batuk, pilek, atau diare. Dan pastikan pula anak Anda memperoleh imunisasi penuh, karena setiap dosis tambahan akan memberikan perlindungan lebih bagi anak-anak.

Mengapa perlu PIN lagi?
• Setelah selama 10 tahun Indonesia bebas polio, penyakit ini kembali menyerang Indonesia dan telah melumpuhkan lebih dari 300 anak.
• Virus polio mencari kelompok-kelompok anak yang tidak terimunisasi di Indonesia.
• Penyakit polio SANGAT MENULAR. Satu orang anak yang belum diimunisasi berisiko menimbulkan penyakit polio pada anak-anak disekitarnya. Karenanya, PIN datang lagi untuk melindungi anak cucu kita dari ancaman penyakit polio dan memutuskan mata rantai penyebaran virus polio di Indonesia, sehingga Indonesia benar-benar bebas polio.
Bagaimana Pelaksanaan PIN ?
• PIN dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia dalam 2 (dua) putaran lanjutan. Putaran IV tanggal 27 Februari 2006 dan putaran V tanggal 12 April 2006.
• Pelayanan imunisasi polio dilakukan di pos PIN yang berlokasi di Posyandu, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Rumah Sakit, dan tempat-tempat pelayanan kesehatan lainnya, baik pemerintah maupun swasta.
• Tempat-tempat strategis lainnya diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai Pos PIN, seperti terminal, stasiun, pasar, taman kanak-kanak, kelompok bermain, panti asuhan, dan tempat penitipan anak dengan dukungan sumber daya dari masyarakat dan pemerintah daerah.
• Pos PIN memberikan layanan imunisasi secara GRATIS. Jangan ada lagi yang lumpuh seumur hidup karena Polio. Mari, Lindungi Anak-anak Kita dari Polio………..!
READ MORE - Seputar Polio

Vaksin

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Vaksin
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar), adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar".
Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).
Vaksinasi adalah pemberian vaksin kedalam tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tersebut. Kata vaksinasi berasal dari bahasa Latin vacca yang berarti sapi - diistilahkan demikian karena vaksin pertama berasal dari virus yang menginfeksi sapi (cacar sapi). Vaksinasi sering juga disebut dengan imunisasi.
1. Sistem Imun
Pertahanan tubuh terhadap infeksi terdiri dari sistem imun alamiah atau nonspesifik yang sudah ada dalam tubuh, dan dapat bekerja segera bila ada ancaman, sedangkan sistem imun spesifik baru bekerja setelah tubuh terpajan dengan mikroorgansime ke dua kali atau lebih. Sistem imun nonspesifik terdiri dari faktor fisis seperti kulit, selaput lendir, silia, batuk dan bersin, faktor larut yang terdiri dari faktor biokimia seperti lisozim (keringat), sekresi sebaseus, asam lambung, laktoferin dan asam neuraminik, faktor humoral sepeti komplemen, interferon dan CRP, sedangkan faktor selular seperti sel fagosit (mono-dan polimorfonukliar), sel NK, sel mast dan sel basofil.
Sistem imun spesifik terdiri dari faktor humoral seperti berbagai antibodi yang diproduksi sel B dan faktor selular seperti Th (Th1, Th2, Ts, Tdth dan Tc). Refleks batuk yang terganggu oleh alkohol, narkotika, kerusakan mekanisme bersihan saluran napas oleh rokok atau polusi udara merupakan masalah sehari-hari yang banyak dijumpai dan harus dihadapi sistem imun. Gagal ginjal atau hati, penggunaan steroid dan diabetes melitus dapat menurunkan mekanisme bersihan darah dan risiko infeksi yang lebih berat. Pada infeksi HIV, mieloma multipel, limfoma terjadi gangguan produksi antibodi. Pada infeksi berat, penggunaan antibiotik dapat melepas sejumlah komponen dinding sel yang bahkan dapat memperberat proses inflamasi.
2. Respons Imun

Imunitas perlu dipacu terhadap jenis antibodi/ sel sistem imun yang benar. Antibodi yang diproduksi harus efektif terhadap mikroba ekstraselular dan produknya (toksin). Antibodi akan mencegah adherens atau menetralisasi toksin. Imunitas selular (CMI, sel T, makrofag) yang diinduksi vaksinasi adalah esensial untuk mencegah dan eradikasi bakteri, protozoa, virus dan jamur intraselular.
Oleh karena itu vaksinasi harus diarahkan untuk menginduksi baik sistem imun humoral maupun selular. Terhadap infeksi cacing dipilih induksi Th2 yang memacu produksi IgE, sedang untuk proteksi terhadap mycobacterium dipilih respons Th1 yang mengaktifkan makrofag. Antigen dapat diubah secara artifisial dan antibodi yang diproduksinya.
berhubungan dengan epitop yang berubah. Epitop dapat dihilangkan, ditambah atau diubah. Cara umum untuk meningkatkan jumlah epitop ialah dengan menambahkan hapten ke antigen.
Ajuvan adalah vaksin mati terdiri dari molekul kecil yang memerlukan konjugasi dengan bahan lain/antigen untuk meningkatkan efektivitas, misalnya aluminium hidroksida. Sel T terdiri dari sel CD4+ dan CD8+. Sel CD4+ disebut sel Th oleh karena membantu sel B untuk memproduksi antibodi. Sebaliknya sel CD8+ berfungsi untuk menghancurkan sel terinfeksi seperti virus dan disebut sel limfosit sitotoksik (CTL). Vaksin berperan penting dalam induksi memori pada sel T dan sel B. Untuk merangsang sel memori hanya diperlukan sedikit rangsangan dari antigen.


Gambar 1. Presentasi antigen dan aktivasi sel T
B. Tujuan Vaksin
1. Menumbuhkan Kekebalan
Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancurkannya, dan "mengingat"-nya. Ketika di kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap:Menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel; dan Mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak.
2. Pemberantasan Penyakit
Berbagai penyakit seperti polio telah dapat dikendalikan di negara-negara maju melalui penggunaan vaksin secara massal (malah, cacar telah berhasil dimusnahkan, sedangkan rubella dilaporkan telah musnah dari AS).

C. Jenis-Jenis Vaksin
Beberapa jenis vaksin dibedakan berdasarkan proses produksinya antara lain :
1. Vaksin Hidup (Live attenuated vaccine)
Vaksin terdiri dari kuman atau virus yang dilemahkan, masih antigenik namun tidak patogenik. Contohnya adalah virus polio oral. Oleh karena vaksin diberikan sesuai infeksi alamiah (oral), virus dalam vaksin akan hidup dan berkembang biak di epitel saluran cerna, sehingga akan memberikan kekebalan lokal. Sekresi IgA lokal yang ditingkatkan akan mencegah virus liar yang masuk ke dalam sel tubuh.
2. Vaksin Mati (Killed vaccine / Inactivated vaccine)
Vaksin mati jelas tidak patogenik dan tidak berkembang biak dalam tubuh. Oleh karena itu diperlukan pemberian hingga beberapa kali.
3. Rekombinan
Susunan vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan epitop organisme yang patogen. Sintesis dari antigen vaksin tersebut melalui isolasi dan penentuan kode gen epitop bagi sel penerima vaksin.
4. Toksoid
Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman. Pemanasan dan penambahan formalin biasanya digunakan dalam proses pembuatannya. Hasil pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid, dan merangsang terbentuknya antibodi antitoksin. Imunisasi bakteriil toksoid efektif selama satu tahun. Bahan ajuvan digunakan untuk memperlama rangsangan antigenik dan meningkatkan imunogenesitasnya.
5. Vaksin Plasma DNA (Plasmid DNA Vaccines)
Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang mengandung kode antigen yang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan penelitian. Hasil akhir penelitian pada binatang percobaan menunjukkan bahwa vaksin DNA (virus dan bakteri) merangsang respon humoral dan selular yang cukup kuat, sedangkan penelitian klinis pada manusia saat ini sedang dilakukan.

Beberapa pula jenis vaksin dibedakan berdasarkan klasifikasinya, antara lain :
Vaksin dibedakan menjadi vaksin bakteri dan vaksin virus. Contoh vaksin bakteri adalah : vaksin TT, vaksin DT, vaksin DTP, vaksin BCG Kering, vaksin Td, vaksin DTP-HB, dan sebagainya. Contoh vaksin virus adalah vaksin Polio, vaksin Campak, vaksin Hepatitis B, dan sebagainya.
Fungsi-fungsi dari beberapa vaksin yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut :
1. Vaksin TT : berfungsi untuk pencegahan terhadap penyakit tetanus dan tetanus neonatal (tetanus yang terjadi pada bayi yang baru lahir).
2. Vaksin DT : berfungsi untuk pencegahan terhadap penyakit difteri dan tetanus.
3. Vaksin DTP : berfungsi untuk pencegahan terhadap penyakit difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan).
4. Vaksin BCG Krg : berfungsi untuk pencegahan terhadap penyakit TBC (tuberculosis).
5. Vaksin Td : berfungsi untuk pencegahan terhadap penyakit Tetanus dan Difteri (konsenstrasi lebih kecil) pada anak usia 7 tahun ke atas.
6. Vaksin DTP-HB : berfungsi untuk pencegahan terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis, dan hepatitis B.
7. Vaksin Polio : berfungsi untuk pencegahan terhadap penyakit poliomyelitis.
8. Vaksin Campak : berfungsi untuk pencegahan terhadap penyakit campak.
9. Vaksin Hepatitis-B : berfungsi untuk pencegahan terhadap penyakit hepatitis-B.

D. Cara Pemberian Vaksin
Berbagai macam cara pemberian vaksin (intramuskular, subkutan, intradermal, intranasal atau oral) berdasarkan pada komposisi vaksin dan imunogenesitasnya. Sebaiknya vaksin diberikan di area tempat respon imun yang diharapkan bisa tercapai maksimal dan terjadinya kerusakan jaringan, saraf dan vaskular yang minimal. Penyuntikan intramuskular dianjurkan jika penyuntikan subkutan atau intradermal dapat menimbulkan iritasi, indurasi, perubahan warna kulit, peradangan, pembentukan granuloma. Risiko pemberian suntikan subkutan pada jaringan neurovaskular lebih jarang, non reaktogenik dan cukup imunogenik.
Vaksin itu antara lain untuk penyakit:
1. Tetanus
Tetanus adalah infeksi akut karena racun yang dibuat dalam tubuh oleh bakteri Clostridium tetani. Penyakit ini bisa membuat kejang otot, rahang terkancing, gangguan bernapas, dan kematian. Bakterinya terdapat di debu, tanah, lalu masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terpotong, luka terbuka, dan luka terbakar. Macam vaksinnya adalah toksoid, diberikan dalam bentuk suntikan.
2. Meningitis meningokokus (Meningokok)
Penyakit radang selaput otak (meningitis) disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis (meningokokus). Cara penularannya melalui udara, batuk, bersin dari orang yang telah terinfeksi bakteri, atau kontak dengan sekret pernapasan (minum dari gelas yang sama). Gejala penyakitnya berupa demam, sakit kepala, dan tidak enak badan. Penyakit ini lebih sering terdapat di Afrika dan agak jarang dijumpai di Indonesia.
3. Tifoid
Lebih dikenal sebagai penyakit typhus atau demam Tifoid. Penderita akan mengalami panas tubuh C), sakit kepala, rasa lelah, dan hilang nafsu makan.yang tinggi (di atas 40 Gejala lain, sakit pada perut, buang-buang air, mual, dan menggigil. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi.
4. Campak (Measle)
Penyakit yang disebabkan virus ini memiliki gejala demam, menggigil, serta hidung dan mata berair. Timbul ruam-ruam pada kulit berupa bercak dan bintil berwarna merah pada kulit muka, leher, dan selaput lendir mulut. Saat penyakit memuncak, suhu C.tubuh bisa mencapai 40
5. Parotitis (Mumps) atau gondongan
Parotitis disebabkan oleh virus yang menyerang kelenjar air liur di mulut, dan banyak diderita anak-anak dan orang muda. Semakin tinggi usia penderita, gejala yang dirasakan lebih hebat. Kebanyakan, orang menderita penyakit ini hanya sekali seumur hidup.
6. Rubella (campak Jerman)
Rubella merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, mengakibatkan ruam pada kulit menyerupai campak, radang selaput lendir, dan radang selaput tekak. Ruam ini biasanya hilang dalam waktu 2-3 hari. Gejalanya berupa sakit kepala, kaku pada persendian, dan rasa lemas. Biasanya diderita setelah penderita berusia belasan tahun atau dewasa. Bila infeksi terjadi pada wanita yang sedang hamil muda (tiga bulan pertama) dapat memengaruhi pertumbuhan bayi.
7. Yellow fever (demam kuning)
Penyakit ini disebabkan virus yang dibawa nyamuk Aedes dan Haemagogus. Orang yang akan bepergian ke Afrika Selatan wajib menjalani vaksinasi penyakit ini. Serangan ringan demam kuning memberikan gejala mirip dengan flu.
8. Hepatitis B
Vaksinasi hepatitis B diperlukan untuk mencegah gangguan hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Gejala penyakitnya diawali dengan timbulnya demam selama beberapa hari. Lalu timbul rasa mual, keletihan, dan tetap terasa letih meski telah beristirahat cukup. Urine (air seni) akan terlihat keruh seperti air teh. Bagian putih bola mata dan kuku akan terlihat berwarna kuning.
9. Japanese B encephalitis
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menimbulkan infeksi pada otak. Virus dibawa oleh nyamuk Culex yang hidup di daerah Asia (dari India Timur ke Korea, Jepang, dan Indonesia). Vaksinasi diberikan melalui suntikan pada hari ke-0, 7, dan 28. Dilakukan vaksinasi pendukung setahun kemudian. Vaksinasi diulang setiap 3 tahun.
10. Rabies
Penyakit infeksi pada otak ini disebabkan oleh virus. Penularannya melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi virus rabies. Hewan yang mungkin menularkan rabies adalah anjing, kucing, kelelawar, monyet, dan lainnya. Vaksin diberikan melalui suntikan sebanyak 3 kali, yaitu hari ke-0, 7, dan 28.
11. Influenza
Penyakit yang disebabkan oleh virus dari keluarga Orthomyxoviridae ini menimbulkan wabah berulang dengan aktivitas kuat serta kejadian infeksi dan kematian yang tinggi pada semua usia. Influenza merupakan penyakit yang cukup berat bila diderita oleh orang berusia lanjut (di atas 65 tahun) serta penderita yang mempunyai penyakit jantung, paru-paru, dan diabetes mellitus (kencing manis).
12. Hepatitis A
Virus hepatitis A Virus hepatitis A mengakibatkan penyakit berjangkit yang teruk serta keradangan hati. Keadaan klinikal penyakit ini berbeza, iaitu daripada sakit ringan yang berlanjutan selama satu hingga dua minggu hingga sakit teruk yang menyebabkan hilang keupayaan selama beberapa bulan. Sebahagian besarnya langsung tidak menunjukkan kesan, hanya sakit-sakit ringan terutama di kalangan kanak-kanak. Ia jarang menyebaLkan kematian dan kadar kematian amat rendah. Kematian hanya berlaku pada pesakit tua yang mendapat penyakit ini dengan mendadak.
Virus (HAV) Virus (HAV) ini berjangkit melalui saluran najis, mulut serta saluran penghadaman. Kerang, tiram dan kima (siput besar) boleh menjadi punca utama wabak hepatitis A jika tidak dimasak dengan betul. Ini kerana kerang mungkin menyedut air yang tercemar dan membawa HAV ke dalam tubuh manusia yang memakannya. Di negara-negara yang kekurangan infrastruktur bekalan air dan sistem pembetungan najis yang tidak sempurna, air yang tercemar boleh menjadi saluran penyebaran HAV.
Hepatitis A adalah penyakit berjangkit yang paling mudah dijangkiti. Kadar jangkitannya lebih 1,000 kali lebih tinggi daripada taun dan 10 hingga 100 kali lebih tinggi daripada demam kepialu. Kematian akibat hepatitis A dilaporkan lebIh dua orang setiap 100 mangsa yang berusia lebih 40 ta. hun dan meningkat hingga seorang dalam setiap 30 mangsa yang berumur lebih 49 tahun. Kajian yang dijalankan di negara kita menunjukkan bahawa 50 peratus daripada penduduk Malaysia di bawah usia 30 tahun tidak mempunyai pelalian kepada hepatitis A.
13. Hepatitis B
Virus hepatitis B (HBV) mengakibatkan keradangan hati yang teruk dan sangat mudah dijangkiti. Kuman berjangkit melalui sentuhan dengan darah atau cecair badan yang tercemar. Ia adalah 100 kali lebih mudah dijangkiti daripada HIV. Penyakit boleh dikesan melalui ujian fungsi hati. Dalam kes-kes yang teruk, pesakit berhadapan dengan maut akibat kerosakan hati di mana sebahagian atau keseluruhan hati musnah. Penyakit hati yang kronik boleh membawa kepada cirrhosis dan barah hati, salah satu jenis barah yang paling kerap dihidapi di dunia. Sebanyak 80 peratus daripada barah hati jenis primary hepatocellular carcinoma (PHC) di seluruh dunia disebabkan komplikasi jangkitan HBV. Jangkitan daripada ibu kepada bayi baru lahir mengakibatkan jangkitan hati yang kronik, cirrhosis atau PHC.
Mengikut anggaran, terdapat kira-kira 350 juta pembawa jangkitan hepatitis B kronik seluruh dunia. Vaksinasi menentang hepatitis B di kalangan remaja dan kanak-kanak dilakukan di banyak negara termasuk Amerika Syarikat, Perancis dan Itali. Pertubohan Kesihatan Sedunia (WHO) menetapkan matlamat imunisasi menyeluruh menentang hepatitis B di semna negara endemik (dengan kadar pembawa lebih tinggi daripada dua peratus) menjelang 1995. Semua negara mesti mempunyai program imunisasi menjelang 1997.
Di negara-negara yang tidak mempunyai program imunisasi menyeluruh, kumpulan-kumpulan yang dianggap mempunyai risiko serangan hepatitis B ialah anak-anak yang ibunya telah dijangkiti, homoseksual dan heteroseksual dengan berbilang pasangan, penagih dadah yang menggunakan suntikan, pekerja yang terpaksa menyentuh darah atau cecair badan orang lain, pekerja kesihatan dan penerima pemindahan organ manusia.
14. Poliomyelitis
Poliomyelitis atau polio juga penyakit berjangltit yang berbahaya dan berpunca daripada virus yang disebarkan melalui saluran najis dan mulut. Antara tanda-tandanya ialah demam, meningitis, lumpuh dan akhirnya maut. Walaupun penyakit ini tidak banyak lagi dikesan di negara-negara perindustrian namun masih berlaku di negara-negara yang mundur dan kurang membangun. Sebanyak 68 kes polio dikesan di Belanda pada 1992 dan dua menghadapi maut.
15. Varicella
Varicella atau cacar air adalah antara penyakit yang paling mudah dijangkiti oleh kanak-kanak dan menyebabkan kulit melepuh. Virus ini turut menyebabkan herpes .oster atau kayap ular. Ia kerap berlaku di kalangan orang tua namun boleh juga berlaku pada kanak-kanak bawah lima tahun yang tidak menerima imunisasi lengkap.
Di negara beriklim sederhana, 90 peratus mendapat cacar air sebelum berusia 15 tahun dan 95 peratus menjelang dewasa. Kadar ini lebih rendah di negara tropika dan paling teruk di kalangan pesakit yang tidak menerima imunisasi lengkap, remaja dan dewasa lebih-lebih lagi wanita hamil kerana risiko berlakunya pneumonia cacar air secara mendadak. Kematian berlaku pada pesakit yang tidak lengkap imunisasinya.
Pembawa utama virus varicella zoster adalah manusia sendiri. Kira-kira 90 peratus yang tinggal serumah dan terdedah kepada pesakit cacar air akan mendapat penyakit ini kerana virus tersebar melalui udara atau sentuhan dengan pesakit. Walaupun rawatan boleh diperolehi selepas jangkitan namun adalah lebih baik mencegah penyakit ini daripada berjangkit. Cara terbaik untuk mencegah ialah dengan mengasingkan pesakit, imunisasi atau vaksinasi.
16. Difteria
Difteria adalah jangkitan bakteria yang berpunca daripada Corynebacterium difteria (C. difteria). Penyakit ini menyerang bahagian atas mukosa saluran pernafasan dan kulit yang terluka. Tanda-tanda yang dapat dirasakan ialah sakit tekak dan demam secara tiba-tiba disertai tumbuhan membran kelabu melitupi tonsi] serta bahagian saluran pernafasan.
Pembawa kuman ini adalah manusia sendiri dan ia amat sensitif kepada faktor-faktor alam sekita seperti kekeringan, kepanasan dan sinaran matahari Difteria disebarkan daripada kulit, saluran pernafasaa dan pesakit difteria itu sendiri. Kadar kematia akibat difteria paling tinggi di kalangan bayi dan orang tua dan kematian biasanya berlaku dalam masa tiga hingga empat hari.
Rawatan bagi penyakit ini termasuk antitoksin difteria yang melemahkan toksin dan antibiotik. Erythromycin dan penisilin membantu menghapuskan bakteria dan menghentikan pengeluaran toksin. Umumnya difteria boleh dicegah melalui vaksinasi. Bayi, kanak-kanak, remaja dan orang dewasa yang tidak mempunyai cukup pelalian memerlukan suntikan booster setiap 10 tahun.
17. Tetanus
Tetanus lebih dikenali sebagai penyakit kancing gigi dan tanda-tandanya ialah kekejangan otot yang menyakitkan. Ia didapati apabila luka dicemari kekotoran yang mengandungi spora bacteria yang dinamakan Clostridium tetani. Tetanus penyakit berbahaya yang membawa maut dan menjadi punca utama kematian di Asia dan Afrika.
Clostridium tetani dijangkiti melalui manusia, kuda dan haiwan berdarah panas. Saluran usus, luka dan spora, tanah, najis mengandungi bakteria ini. Risiko penyakit ini amat tinggi jika kecederaan berpunca daripada objek runcing dan tajam seperti jarum atau duri pokok yang tercemar yang berkemungkinan mencucuk spora jauh ke dalam kulit.
Tanda-tanda seseorang itu mendapat tetanus ialah kelesuan, ketegangan atau kekejangan, sukar mengunyah, otot semakin keras hingga terkancing gigi, susah tersenyum lebar, pengecutan otot yang kuat, kekejangan yang menyakitkan. Tetanus mengakibatkan keretakan (di tulang-tulang panjang, tulang belakang), kerenggangan tendon, kesukaran makan, kegagalan jantung dan trombosis. Tetanus hanya boleh dicegah melalui vaksinasi.
18. Pertussis
Penyakit batuk kokol disebabkan bakteria Bordetelia pertussis dan berpunca daripada jangkitan saluran pernafasan yang tersekat-sekat terutama di kalangan kanak-kanak berumur bawah dua tahun. Tandata-tandanya ialah batuk sekali-sekala dan melarat menjadi batuk kokol berpanjangan dan akhirnya muntah. Pertussis jika dibiarkan boleh mengakibatkan kerosakan otak. Terdapat kira-kira 40 juta kes baru setiap tahun dan mengakibatkan 340,000 kematian di mana satu peratus daripadanya bayi berumur kurang setahun.
Pembawa kuman pertussis ialah manusia dan kumannya hidup di saluran pernafasan. Bakteria batuk koko sensitif kepada faktor alam sekitar termasuk kekeringan, kepanasan dan sinaran matahari dan mudah tersebar melalui pernafasan. Pertussis boleh menyebabkan pneumonia, konvulsi, pendarahan dan kekeringan.

E. Keamanan dan Stabilitas
Perhatikan keamanan dan stabilitas vaksin. Vaksin pada umumnya stabil selama 1 tahun pada suhu 4oC, sedangkan bila disimpan pada suhu 37oC hanya dapat bertahan 2-3 hari.
Persoalan yang dapat timbul pada penggunaan vaksin:
1. Vaksin bakteri/virus yang dilemahkan.
a. Proses untuk melemahkan bakteri / virus kurang mencukupi.
b. Mutasi ke bentuk wild type.
c. Kontaminasi.
d. Penerima vaksin imunokompromais.
2. Vaksin bakteri / virus yang dimatikan.
a. Kontaminasi.
b. Reaksi alergi atau autoimun.
c. Proses mematikan bakteri / virus kurang memadai.
3. Vaksin plasmid DNA dapat menimbulkan toleransi atau autoimun.

F. Vaksin Untuk Orang Dewasa
Imunisasi untuk orang dewasa dapat diberikan sebagai imunisasi ulangan atau imunisasi pertama. Vaksin yang tersedia untuk orang dewasa cukup banyak (Tabel 1).
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 19
Tabel 1. Vaksin untuk orang dewasa
Nama vaksin Macam vaksin Cara pemberian
Tetanus TOKSOID IM
Kolera Bakteri yang dimatikan IM/SK
Hemofilus influenza tipe B Polisakarida IM
Pneumokok Polisakarida (23 tipe) IM/SK
Meningokok Polisakarida (tetravalen) SK
Tifoid Bakteri yang dimatikan Oral dan IM
BCG Bakteri dilemahkan ID/SK
Campak
Parotitis (Mumps) Virus dilemahkan
Virus dilemahkan SK
SK
Polio oral Virus dilemahkan Oral
Polio inactivated Virus tidak aktif SK(meningkatkan potensi polio oral)
Rubela Virus dilemahkan SK
Yellow fever Virus dilemahkan SK
Hepatitis B DNA rekombinan IM
Hepatitis A Virus tidak aktif IM
Influenza Virus tidak aktif IM
Japanese B encephalitis
Virus tidak aktif
SK

Rabies Virus tidak aktif
IM/ID

.
Dewasa ini sedang dikembangkan vaksin malaria, dengue, HIV, H. pylori dan virus papilloma.
Tabel 2. Jadwal imunisasi dewasa
Imunisasi dewasa diperuntukkan bagi setiap orang dewasa (usia >12 tahun) yang menginginkan kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit tertentu. Namun ada beberapa kelompok individu yang berisiko tinggi terhadap penyakit-penyakit menular tertentu, oleh karena itu sangat dianjurkan untuk melakukan vaksinasi (Tabel 3).
Tabel 3. Imunisasi dewasa yang dianjurkan
Vaksin Sangat di anjurkan
Vaksin Dianjurkan
Influenza Usia lanjut > 50 th atau usia < 50 th yang mempunyai penyakit kronis (asma, diabetes, jantung, paru dll). Pneumokok Usia > 55 th, atau usia 2-64 th dengan penyakit kronis/risiko tinggi
Demam Tifoid Mereka yang bekerja di dapur/restoran
Hepatitis A
Mereka yang mempunyai risiko penularan
/ wisatawan
Hepatitis B
Semua umur
Campak,Gondong,Rubela
(MMR) Mereka yang mempunyai risiko penularan
Cacar Air (Varisela) Mereka yang rentan
Difteri Tetanus (DT) Mereka yang belum pernah mendapatkan imunisasi sewaktu anak.

INDIKASI
Indikasi penggunaan vaksin pada orang dewasa didasarkan kepada riwayat paparan, risiko penularan, usia lanjut, imunokompromais, pekerjaan, gaya hidup dan rencana bepergian.
Riwayat pajanan : Tetanus toksoid
Risiko penularan : Influenza, Hepatitis A., Tifoid, MMR
Vaksin
Dosis ke I Dosis ke II
Dosis ke III
Booster/
dosis
penguat

Influenza Satu dosis diberikan setiap tahun
Pneumokok Satu dosis diberikan 5 tahun sekali
Demam Tifoid Satu dosis diberikan 3 tahun sekali
Hepatitis A
Wisatawa
internasio
nal 6-12 bulan
setelah dosis
ke I Tidak perlu Tidak perlu

Hepatitis B Segera mungkin 1 bulan setelah dosis ke I 5 bulan setelah dosis ke II Diulang tiap 5 tahun (1 dosis), bila HbsAg (-)
Campak, Gondong, Rubela (MMR) Segera mungkin > 28 hari setelah dosis ke I Tidak perlu Tidak perlu
Cacar air (Varisela) Segera mungkin > 28 hari setelah dosis ke I Tidak perlu Tidak perlu
Difteri
Tetanus
(DT) 3 dosis primer jika belum diberikan pada saat anak
Setiap 10 tahun sekali cukup 1 dosis
Segera mungkin 1-2 bln setelah dosis ke I 6-12 bln setelah dosis ke II

Usia lanjut : Pneumokok, Influenza
Risiko pekerjaan : Hepatitis B, Rabies.
Imunokompromais : Pneumokok, Influenza, Hepatitis B.
Hemophili
Rencana bepergian : Japanese B encephalitis, Tifoid,
Hepatitis A, Meningitis





DAFTAR PUSTAKA

a Media Wiki.com/project./Vaksinasi.htm

www.google.co.id/vaksinasi mencelakakan manusia.htm

http/:Wordpress.com/jenis vaksin.doc

Katzung G. Bertram. Farmakologi Dasar dan Klinik. 2001. Salemba Medika

WikiPedia.co.id
http/:www.google.co.id/perlunya vaksinasi.htm
READ MORE - Vaksin

Graha DBS n Th3 Hack3r

AdsenseCamp